Kamis, 28 Mei 2026

Pemilu Damai Ala Muhammadiyah 

Pemilu damai ala Muhammadiyah ini adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan praktik komunikasi politik yang demokratis.

Tayang:
Editor: Arief Permadi
LHKP Muhammadiyah
Salah satu kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) dalam mengedukasi warga dalam beberapa kegiatan pelatihan dan seminar-seminar yang diikuti warga Muhammadiyah dan kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah. 

Pimpinan tidak mempermasalahkan perbedaan pilihan, tapi pimpinan selalu memberikan petuah dan arahan kepada anggotanya di berbagai kegiatan, baik di saat acara pengajian, rapat-rapat maupun di luar itu dengan mengajak anggota untuk membaca buku-buku Muhammadiyah atau artikel berkait agar memiliki bekal dan keyakinan pada saat melakukan gerakan, sehingga marwah Muhammadiyah dan kerukunan para anggota tetap terjaga.

Untuk menjaga ini, diskusi politik antarwarga Muhammadiyah, baik resmi maupun tidak resmi terselenggara, Para anggota berkesempatan menyampaikan curahan hatinya atas segala persoalan persyarikatan/internal Muhammadiyah dan persoalan lain di luar itu termasuk pemilihan umum, khususnya pilihan kandidat.

Diskusi yang kadang-kadang diwarnai suasana panas ini tidak pernah menimbulkan konflik besar dan berkepanjangan, karena niat awalnya adalah untuk sharing informasi, saling menguatkan dan saling mengisi atas kekurangan masing-masing.

Diskusi itu tidak membuat simpulan atau keputusan, tapi masing-masing orang diharapkan menjadi tahu pilihan dan keyakinan masing-masing, sehingga terjadi saling pengertian dan pemahaman.

Tokoh Islam yang juga tokoh Muhammadiyah, Din Syamsuddin dalam setiap acara di pengajian Muhammadiyah seringkali menyampaikan bahwa semua warga Muhammadiyah mutlak harus  melek politik, karena tanpa pemahaman tentang politik, akan mudah dipolitisasi, yang menyebabkan menjadi bimbang, ragu, dan galau dalam memutuskan perkara, termasuk ketika memilih kandidat terbaik dalam setiap pemilihan umum. 

Beda pilihan presiden dan anggota legislatif di kalangan warga Muhammadiyah adalah perkara biasa. Meski terkesan kurang kompak tapi kekeluargaan dan keharmonisan hubungan tetap terjaga.

Para  Pimpinan jauh-jauh hari sudah menghimbau kepada para warga Muhammadiyah untuk tidak terpengaruh oleh suasana hiruk pikuk pemilu yang sangat kompleks.

Suatu tindakan konstruktif yang dibangun Muhammadiyah adalah bahwa peristiwa pemilihan umum itu dijadikan ajang silaturahmi, karena di arena itulah antarwarga Muhammadiyah dapat berjumpa untuk menyampaikan rupa-rupa perkara dari mulai masalah pribadi, keluarga, lembaga, dan bangsa. Pada kesempatan itu terjadi   sharing pendapat dan bertukar gagasan.

Pimpinan dan semua warga Muhammadiyah sudah paham terhadap hak masing-masing anggota karena sudah siap benar dalam  menghadapi setiap perbedaan; saling memaklumi dan diterima dengan kebesaran jiwa masing-masing.

Para pimpinan Muhammadiyah bertekad, meski terjadi perbedaan pendapat dan haluan politik, serta menghadapi tantangan yang sangat kompleks, program Muhammadiyah mesti berjalan terus, tidak boleh ada yang tertinggal.

Menghadapi musim pemilu dan pelaksanaan hari H pemilu, kesadaran warga Muhammadiyah cukup tinggi. Forum edukasi politik yang diadakan di berbagai lokasi dan diskusi santai tentang pemilu di antara warga cukup semarak.

Dari forum itulah interest warga Muhammadiyah tampak.  Selain itu, dengan munculnya para anggota Muhammadiyah yang ikut serta menjadi calon legislatif, anggota Komisi Pemilihan Umum, Tim Pengawas Pemilu, Anggota KPPS, Tim Sukses calon, dan Juru kampanye, menguatkan kiprah Muhammadiyah dalam pemilihan umum demikian kuat kesungguhannya. 

Kepada warga Muhammadiyah yang berkiprah di lembaga dan berbagai kegiatan itu, pimpinan tentu mendorong dan memberi pesan tentang pentingnya memelihara etik dan moral, menjaga  nama baik Muhammadiyah, dan memerhatikan aspirasi/kepentingan umat.

Spesial kepada juru kampanye dan tim kampanye, agar menyampaikan program-program riel, tidak berbohong, dan memberi solusi berbagai kesulitan masyarakat yang dihadapi. Intinya melakukan kampanye akal sehat dan bermartabat, mengedepankan program kerja riel dan visi misi yang jelas, serta menjauhi segala bentuk kampanye hitam dan negatif yang bisa memicu konflik sosial.

Pemilu damai ala Muhammadiyah ini adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan praktik komunikasi politik yang demokratis. Dengan mengutamakan etika, moral, dialog, dan kampanye yang bermartabat, Muhammadiyah berusaha menciptakan suasana pemilu  aman dan damai. Itulah bagian penting dalam membangun demokrasi yang berkeadilan untuk memperkuat persatuan bangsa Indonesia. (**)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved