Pemilu Damai Ala Muhammadiyah
Pemilu damai ala Muhammadiyah ini adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan praktik komunikasi politik yang demokratis.
Oleh: Aziz Taufik Hrzi-Sitti Chadidjah- Nazwa Aura Anjani- Nabila Nurwulan
Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Bandung
PEMILIHAN Umum adalah salah satu instrumen utama dalam sistem demokrasi yang memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpin baik legislatif maupun eksekutif.
Di Indonesia, pemilu seringkali diwarnai oleh suasana politik yang dinamik dan unik. Dinamikanya, banyak partai dan tokoh partai mengumbar janji di luar jangkauan riil. Juga koalisi beberapa partai yang kemudian pecah kongsi di tengah jalan.
Uniknya adalah perbedaan sekuat apa pun, ujungnya teredam dan partai yang awalnya berbeda haluan, tidak lama kemudian bersatu karena terikat beberapa kepentingan.
Masa lalu seolah tidak pernah ada apa-apa alias terlupakan. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, memiliki kewajiban moral dalam mendorong pemilihan umum damai dan berkeadilan.
Beberapa peristiwa nyata di lapangan seperti dugaan pelanggaran.atau kecurangan yang dilakukan para elite politik pada setiap pemilu dan politisasi sara yang terjadi di berbagai media sosial, disambung kemajuan teknologi, artificial intelligence (AI) yang cukup dahsyat.dan sangat adaptif untuk memudahkan partai dalam rupa-rupa kegiatannya, membangkitkan Muhammadiyah harus masuk sebagai kontributor moral dan pengingat etik para pelaku politik/politisi.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi politik dengan para pihak, sehingga masyarakat merasa terhargai sebagai sebagai komunikator yang menyuarakan kepentingannya.
Untuk membangun suasana komunikasi politik harmonis dan berkualitas, pendidikan politik yang merata, sosialisasi politik yang gencar, dan rekrutmen politik yang selektif merupakan program rutin yang sepantasnya dilakukan partai politik.
Namun yang terjadi, ajakan berpolitik para elite politik lebih banyak berlangsung pada menjelang dan masa kampanye pemilihan umum.
Memerhatikan kondisi ini, Muhammadiyah dengan lembaga politiknya bernama Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) memiliki program mengedukasi warga dalam beberapa kegiatan pelatihan dan seminar-seminar yang diikuti warga Muhammadiyah dan kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Warga Muhammadiyah diberi bekal agar melek politik dan memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik dan taat hukum. Selain itu, pada setiap pemilihan umum, Muhammadiyah di berbagai tingkatan mengundang para aktivis baik calon legislatif atau eksekutif yang akan bertandang mewakili partai politik tertentu maupun calon penyelenggara pemilihan umum yang berkiprah di Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).
Mereka diajak bicara, diskusi, dan sharing pendapat mengenai beberapa perkara tentang kegiatan pemilihan umum., terkait dengan dedikasi, kejujuran, dan aspirasi rakyat yang intinya mutlak harus memegang prinsip amanah.
Sesuai arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, komunikasi antarwarga Muhammadiyah tidak terganggu oleh peristiwa apa pun termasuk dan terutama pemilihan umum.
Setiap anggota Muhammadiyah memiliki hak untuk memilih kandidat siapa pun orangnya dari kelompok atau partai mana pun sesuai dengan keyakinan pemilih. Yang penting, kandidat pilihan itu memiliki kredibilitas, baik dari sisi perilaku, keilmuan maupun keterampilan berpolitik, dan visi misi sesuai dengan kepentingan bangsa, serasi dengan harapan dan pesan PP Muhammadiyah.
Meskipun ada perbedaan pendapat, perbedaan pilihan, dan perbedaan gagasan terkait pemilu, komunikasi dan silaturahmi tidak pernah terhenti dan setiap warga Muhammadiyah tetap menjalin persaudaraan.
Pimpinan tidak mempermasalahkan perbedaan pilihan, tapi pimpinan selalu memberikan petuah dan arahan kepada anggotanya di berbagai kegiatan, baik di saat acara pengajian, rapat-rapat maupun di luar itu dengan mengajak anggota untuk membaca buku-buku Muhammadiyah atau artikel berkait agar memiliki bekal dan keyakinan pada saat melakukan gerakan, sehingga marwah Muhammadiyah dan kerukunan para anggota tetap terjaga.
Untuk menjaga ini, diskusi politik antarwarga Muhammadiyah, baik resmi maupun tidak resmi terselenggara, Para anggota berkesempatan menyampaikan curahan hatinya atas segala persoalan persyarikatan/internal Muhammadiyah dan persoalan lain di luar itu termasuk pemilihan umum, khususnya pilihan kandidat.
Diskusi yang kadang-kadang diwarnai suasana panas ini tidak pernah menimbulkan konflik besar dan berkepanjangan, karena niat awalnya adalah untuk sharing informasi, saling menguatkan dan saling mengisi atas kekurangan masing-masing.
Diskusi itu tidak membuat simpulan atau keputusan, tapi masing-masing orang diharapkan menjadi tahu pilihan dan keyakinan masing-masing, sehingga terjadi saling pengertian dan pemahaman.
Tokoh Islam yang juga tokoh Muhammadiyah, Din Syamsuddin dalam setiap acara di pengajian Muhammadiyah seringkali menyampaikan bahwa semua warga Muhammadiyah mutlak harus melek politik, karena tanpa pemahaman tentang politik, akan mudah dipolitisasi, yang menyebabkan menjadi bimbang, ragu, dan galau dalam memutuskan perkara, termasuk ketika memilih kandidat terbaik dalam setiap pemilihan umum.
Beda pilihan presiden dan anggota legislatif di kalangan warga Muhammadiyah adalah perkara biasa. Meski terkesan kurang kompak tapi kekeluargaan dan keharmonisan hubungan tetap terjaga.
Para Pimpinan jauh-jauh hari sudah menghimbau kepada para warga Muhammadiyah untuk tidak terpengaruh oleh suasana hiruk pikuk pemilu yang sangat kompleks.
Suatu tindakan konstruktif yang dibangun Muhammadiyah adalah bahwa peristiwa pemilihan umum itu dijadikan ajang silaturahmi, karena di arena itulah antarwarga Muhammadiyah dapat berjumpa untuk menyampaikan rupa-rupa perkara dari mulai masalah pribadi, keluarga, lembaga, dan bangsa. Pada kesempatan itu terjadi sharing pendapat dan bertukar gagasan.
Pimpinan dan semua warga Muhammadiyah sudah paham terhadap hak masing-masing anggota karena sudah siap benar dalam menghadapi setiap perbedaan; saling memaklumi dan diterima dengan kebesaran jiwa masing-masing.
Para pimpinan Muhammadiyah bertekad, meski terjadi perbedaan pendapat dan haluan politik, serta menghadapi tantangan yang sangat kompleks, program Muhammadiyah mesti berjalan terus, tidak boleh ada yang tertinggal.
Menghadapi musim pemilu dan pelaksanaan hari H pemilu, kesadaran warga Muhammadiyah cukup tinggi. Forum edukasi politik yang diadakan di berbagai lokasi dan diskusi santai tentang pemilu di antara warga cukup semarak.
Dari forum itulah interest warga Muhammadiyah tampak. Selain itu, dengan munculnya para anggota Muhammadiyah yang ikut serta menjadi calon legislatif, anggota Komisi Pemilihan Umum, Tim Pengawas Pemilu, Anggota KPPS, Tim Sukses calon, dan Juru kampanye, menguatkan kiprah Muhammadiyah dalam pemilihan umum demikian kuat kesungguhannya.
Kepada warga Muhammadiyah yang berkiprah di lembaga dan berbagai kegiatan itu, pimpinan tentu mendorong dan memberi pesan tentang pentingnya memelihara etik dan moral, menjaga nama baik Muhammadiyah, dan memerhatikan aspirasi/kepentingan umat.
Spesial kepada juru kampanye dan tim kampanye, agar menyampaikan program-program riel, tidak berbohong, dan memberi solusi berbagai kesulitan masyarakat yang dihadapi. Intinya melakukan kampanye akal sehat dan bermartabat, mengedepankan program kerja riel dan visi misi yang jelas, serta menjauhi segala bentuk kampanye hitam dan negatif yang bisa memicu konflik sosial.
Pemilu damai ala Muhammadiyah ini adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan praktik komunikasi politik yang demokratis. Dengan mengutamakan etika, moral, dialog, dan kampanye yang bermartabat, Muhammadiyah berusaha menciptakan suasana pemilu aman dan damai. Itulah bagian penting dalam membangun demokrasi yang berkeadilan untuk memperkuat persatuan bangsa Indonesia. (**)
