Kamis, 14 Mei 2026

2 Hari Sebelum Ridwan Kamil Deklarasi, Anies Baswedan Diam di Makam, Ingat Dosa dan Hari Pembalasan

Anies Baswedan mengunjungi makam, pada 17 Agustus 2024, atau dua hari sebelum Ridwan Kamil dan Suswono deklarasi Pilkada Jakarta, 19 Agustus 2024.

Tayang:
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
X Anies Baswedan
Anies Baswedan mengunjungi makam, pada 17 Agustus 2024, atau dua hari sebelum Ridwan Kamil dan Suswono deklarasi Pilkada Jakarta, 19 Agustus 2024. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Anies Baswedan mengunjungi makam, pada 17 Agustus 2024, atau dua hari sebelum Ridwan Kamil dan Suswono deklarasi Pilkada Jakarta, 19 Agustus 2024.

Dalam catatan yang diunggah di X (sebelumnya Twitter), Anies Baswedan sedang melakukan perjalanan dan melewati Rorotan.

Lalu dia memutuskan untuk mampir ke Taman Pemakaman Umum (TPU) Rorotan.

Makam ini adalah makam yang diperuntukan bagi warga Jakarta yang meninggal dunia karena terkena serangan Covid-19.

Di makam itu, Anies Baswedan memandang pada ratusan makam yang ditumbuhi rumput hijau.

Dia mengingat masa-masa sulit Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, mengatasi wabah Covid-19.

"Saat kami tugas di Jakarta dulu, kami kerja bersama dengan ribuan orang untuk menghadapi dan mengatasi pandemi. Dari dekat kami menyaksikan betapa mereka semua, para nakes dan semua petugas di lapangan telah berhasil menyelamatkan, mungkin, jutaan nyawa," tulis Anies Baswedan.

"Namun setiap kali mengingat kembali masa penuh cobaan itu, termasuk saat ziarah ke makam ini, selalu tersisa tanya: apa lagi yang seharusnya bisa kami lakukan saat itu untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, meringankan lebih banyak derita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan meringankan beban kami di Hari Pengadilan nanti."

Berikut cacatan lengkap Anies Baswedan yang dia bagikan di akun X:

Kebetulan melewati wilayah Rorotan hari ini, memutuskan mampir ke TPU Rorotan (yang sempat menjadi pemakaman khusus COVID) dan ke makam Sekda Saefullah. Mengingat kembali masa-masa berat yang dialami Jakarta, Indonesia dan dunia saat itu.

Di sana bertemu dengan sepasang suami-istri yang kehilangan anaknya yang saat itu masih berusia 10 tahun. Sejak anaknya meninggal, kedua orangtuanya tak pernah absen ziarah setiap bulan. Suami, istri dan anak bungsu naik motor dari Tebet ke Rorotan untuk ziarah ke makam anaknya. Setiap bulan. Tak banyak, dan sungguh berat, orang tua ziarah dan mendoakan anak di makamnya. 

Di sana bertemu pula dengan satu keluarga yang ziarah ke makam kedua orangtuanya. Sang ibu meninggal terlebih dahulu karena COVID. Sang ayah meninggal sesudah pandemi selesai, dan bukan karena COVID, namun sempat meminta pada anak-anaknya agar ia dimakamkan dekat dengan almarhum istrinya.

Kita semua melewati pandemi yang sama, namun setiap kita mengalami pandemi secara berbeda-beda. Ada yang kehilangan pendapatan, ada yang kehilangan orang-orang yang dicintai atau kehilangan orang-orang yang mereka bergantung kepadanya. Sebagian derita itu belum atau tak akan pernah hilang bekasnya di dalam diri kita. 

Saat kami tugas di Jakarta dulu, kami kerja bersama dengan ribuan orang untuk menghadapi dan mengatasi pandemi. Dari dekat kami menyaksikan betapa mereka semua, para nakes dan semua petugas di lapangan telah berhasil menyelamatkan, mungkin, jutaan nyawa. 

Namun setiap kali mengingat kembali masa penuh cobaan itu, termasuk saat ziarah ke makam ini, selalu tersisa tanya: apa lagi yang seharusnya bisa kami lakukan saat itu untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, meringankan lebih banyak derita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan meringankan beban kami di Hari Pengadilan nanti. 

Di hari kemerdekaan ini, dari TPU Rorotan ini, kami panjatkan doa untuk keselamatan bangsa dari segala mara bahaya. Semoga Allah SWT senantiasa merahmati negara Indonesia dan melindungi kita semua. Aamiin yra.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved