Khutbah Jumat
Materi Khubah Jumat, 3 Bekal Penting di Tahun Baru Hijriah, Muhasabah, Hijrah, dan Istikomah
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Khutbah Jumat.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Arief Permadi
Oleh karena itu, ketika mendapati tahun baru, maka dia ber-muhasabah. Dia lihat, dosa yang pernah dilakukan, dia lihat maksiat yang sering dilakukan, perintah Allah mana yang berlum ditunaikan. Maka, dia tidak akan sibuk dengan aib orang lain, karena aibnya banyak. Jauh kesombongan dari orang yang pandai ber-muhasabah.
Penting, jangan suka merasa saleh, harusnya merasa salah. Karena merasa saleh itu salah, merasa salah itu saleh.
KEDUA, HIJRAH
Hijrah ada 4 maknanya, melangkah, berpindah, berubah, meninggalkan.
Maka, orang yang ingin hidupnya lebih baik, maka ketika dia diizinkan bertemu dengan tahun baru, dia pasti berhijrah.
Melangkah menuju langkah yang lebih baik, dia berpindah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang baik, dia berubah memperbaiki diri, yang sebelumnya tidak baik menjadi baik, yang sebelumnya tidak taat menjadi taat, yang sebelumnya bermaksiat, tinggalkan maksiatnya!
Mengapa? Karena dia takut kepada Allah SWT. Orang yang berhijrah akan memilih lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah, daripada kehilangan Allah karena sesuatu. Karena orang yang berhijarah tahu, ketika dia meninggalkan yang haram, meninggalkan yang dilarang Allah, akan digantikan oleh ALlah dengan yang lebih baik.
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 218)
Siapapun yang saat ini sedang meninggalkan sesuatu yang buruk karena Allah, percayalah Allah sedang mencintaimu. Ketika engkau berani melangkahkan kaki pada satu kebaikan, Allah sedang mencintaimu.
Ingat, ketika Allah mencintai seorang hampa, tidak selalu menampkan dengan memberinya dunia, harta yang banyak, jabatan yang tinggi, derjat dunia yang seakan-akan membahagiakan, bukan.
Kalau semua itu menjadikan jadi jauh dari Allah, itu bukan tanda cintanya Allah SWT, justru Allah sedang murka.
Keadaan seperti itu kita kenal dengan istidjrat, yakni suatu keadan yang seolah-olah diangkat derajat, padahal itu jebakan yang menjadikan dia semakin jauh dari Allah SWT.
Tapi saat engkau makin dekat dengan Allah, taat pada Allah. Mungkin harta, jabatan, pangkat hilang. Tapi di saat yang bersamaan makin dekat dengan Allah, maka Allah sedang mencintaimu. Ayo hijrah, berubah.
Maka, yang sebelumnya pemarah jadi pemurah. Dia yang awalnya pengejek jadi pengajak, yang awalnya pelit, jadi dermawan. Dia yang awalnya pembenci jadi penyayang, yang awalnya tidak salat berjamah, ayo berubah. Yang awalnya tak mau sedekah, ayo berubah. Ini ciri dan tanda orang itu berhasil, sehingga dia layak mendapatkan kebaikan di tahun baru hijirah ini.
KETIGA, ISTIQAMAH
Apa itu istiqamah, berkelanjutan. Bahagia sekali orang yang istiqamah dalam hidupnya. Ketahuilah, setiap manusia itu rugi kecuali orang yang berilmu.
Semua orang yang berilmu itu rugi, kecuali orang yang beramal. Semua orang beramal itu rugi, kecuali yang ikhlas dalam amalnya, dan orang yang beramal dan ikhlas pun berpotensi rugi, kecuali orang yang istiqamah dalam amaliyah dan keikhlasannya.
Sampai kapan istiqamah? sampai husnul khatimah. Buah istiqamah adalah kebahagiaan, kelapangan, Allah SWT berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 30.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/45-ucapan-selamat-tahun-baru-islam-1-muharram-1440-hijriah_20180910_171444.jpg)