Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ke-13: Lego Jangkar Lagi Sehari Semalam, Bersiap Menyerbu Negeri Jiran
PADA pagi hari ke-13 Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Sabtu, 29 Juni, KRI Dewaruci sudah memasuki perairan Malaka, Malaysia.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan
PADA pagi hari ke-13 Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Sabtu, 29 Juni, KRI Dewaruci sudah memasuki perairan Malaka, Malaysia. Salah satu pertandanya, jam di ponsel saya menunjukkan waktu Malaysia, satu jam lebih cepat daripada Waktu Indonesia bagian Barat.
Semalam saya menyetel alarm pukul 04.30. Ketika terbangun tengah malam karena merasa ingin buang air kecil, saya baru sadar bahwa jam di ponsel saya waktu Malaysia. Karena itu, saya mengubah setelan alarm menjadi pukul 05.30, yang berarti setengah lima Waktu Indonesia bagian Barat.
Subuh berlangsung sekitar pukul 05.00 WIB, dengan arah kiblat ke buritan, sempat berubah dari “merah 170”.
Habis Subuh, saya tidak turun lagi, tapi menunggu sunrise di geladak atas. Ada beberapa orang yang sama-sama menunggu matahari terbit, antara lain Hermansyah Yahya, dosen UIN Ar-Raniri Banda Aceh Aceh. Kami sempat saling memfoto saat sunrise.
Saat matahari makin meninggi, KRI Dewaruci lego jangkar beberapa mil dari Kota Malaka. Bangunan-bangunan di kota ini sudah kelihatan jelas di antara kapal-kapal yang berlalu lalang. Di sisi kanan, langit berhias pelangi, yang ujungnya seakan-akan masuk ke sebuah kapal tanker yang sedang lewat. Indah sekali.
Kami akan menunggu sehari semalam untuk menyesuaikan waktunya dengan penyambutan oleh KBRI dan pemerintah setempat.
Hari ini ternyata bertepatan dengan hari ulang tahun Komandan KRI Dewaruci, Letnan Kolonel Laut Rhony Lutviandhani. Usianya baru 41 tahun. Saya membayangkan kariernya yang cemerlang, dalam beberapa tahun mendatang naik pangkat menjadi kolonel, lalu laksamana pertama (bintang satu). Bukan tidak mungkin ia akan mencapai pangkat laksamana (bintang empat). Semoga, aamiin.
Saya mendapat cerita bahwa para anggota Laskar Rempah dan awak kapal sempat memberikan kejutan pada sekitar pukul dua dini hari. Mereka membangunkan Komandan dan memberikan ucapan selamat ulang tahun. Saya tidak tahu persisnya seperti apa kejutan itu karena saya tidak ikut.
Pagi ini acara ulang tahun Komandan itu dirayakan dengan potong tumpeng dengan doa yang dibacakan Mohammad Fikri Ramadhan dari Laskar Rempah. Potongan tumpeng diberikan kepada salah satu awak kapal dan salah satu anggota perempuan Laskar Rempah. Setelah itu, seperti biasa, sesi foto-foto.
Masih di geladak atas, dengan bantuan Dewi Kharisma, saya membeli paket roaming untuk mengakses internet selama di Malaka. Tadinya saya pikir kami akan membeli nomor baru di Malaka supaya lebih murah. Tapi ternyata harga paket roaming tidak terlalu mahal. Paket seminggu harganya seratus ribu rupiah.
Begitu paket berfungsi, ratusan pesan WhatsApp pun masuk, begitu juga notifikasi Facebook. Rasanya separuh nyawa sudah menyatu lagi. Hidup tidak lagi terisolasi. Saya pun merasa harus segera memosting tulisan-tulisan.
Sayangnya, ketika turun mengambil lapotop dan mencoba memosting di lounge, sinyalnya lemah. Saya bahkan gagal memosting satu pun naskah ke Tribunjabar.id. Saya hanya bisa memosting satu naskah ke FB. Namun, rasanya agak malas untuk naik lagi ke geladak atas. Cuaca makin panas dan kami (saya dan Petrik) sempat terlibat obrolan menarik dengan Prof. Ichwan Azhari dan Hermansyah Yahya.
Sambil menikmati bubur kacang ijo panas, kami mengobrol, selain tentang rempah, terutama kafur dan kemenyan, juga antara lain ihwal sejarah para pahlawan.
“Mereka yang disebut para pahlawan itu tak ada yang berperang melawan Belanda berdasarkan nasionalisme,” kata Prof. Ichwan. “Teuku Umar itu berperang karena bisnis rempahnya terganggu. Sisingamangaraja XII itu adalah raja bisnis kemenyan. Ia angkat senjata karena terganggu juga bisnisnya.”
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/MBJR_hari-ke-13.jpg)