Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ketiga: Meninggalkan Dumai, Membelah Laut, dan Kehilangan Sinyal Internet
Kami mulai membelah lautan dari Pelabuhan Dumai ketika matahari kira-kira sepenggalah, sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat, Rabu, 19 Juni 2024.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Dewaruci diluncurkan pertama kali pada tanggal 24 Januari 1953 dan pada bulan Juli dilayarkan ke Indonesia oleh para taruna AL dan kadet ALRI. Setelah itu, KRI Dewaruci, yang berpangkalan di Surabaya, bertugas sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan ke luar negeri. KRI Dewaruci juga pernah mengelilingi dunia dua kali.
Nama Dewaruci sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan, yaitu dewa yang berhati lembut. Di KRI Dewaruci, pahatan tokoh Dewaruci terpampang beberapa titik di kapal, termasuk di sebuah meja makan oval berukuran 4x6 meter. Dewaruci digambarkan sedang menatap Bima yang mencengekram naga di lautan. Di haluan, juga terdapat patung Dewaruci.
KRI Dewaruci memiliki tiga tiang utama, yaitu tiang Bima, Yudhistira, dan Arjuna, serta memiliki 16 layar dengan lapang total 1.091 meter persegi. Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat gerak dengan satu propeler berdaun 4. Kecepatan penuh yang bisa dicapai sekitar 10,5 knot dengan mesin dan 9 knot dengan layar.
Setiap tahun, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke beragam belahan alam dengan tujuan utama, yaitu latihan pelayaran bintang atau dinamakan Kartika Jala Krida. KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di beragam tempat di dunia.
Menjelang tengah hari, saya ingin tahu lebih banyak tentang KRI Dewaruci. Itu sebabnya saya mendekat ke anjungan, tempat ruang kendali kapal. Saya bertanya mulai tentang kemudi dan kecepatan kapal. Namun, lucunya, salah satu awak kapal malah membelokkan pembicaraan dari soal kapal ke bisnis yang sedang dia jalani, yakni tentang obat herbal.
“Ini bukan MLM,” katanya, kata-kata khas mereka yang menawarkan MLM.
Untunglah, pembicaraan yang menyimpang dari topik muhibah itu terhenti karena waktunya makan siang. Kali itu, saya bersama tujuh orang lain dari MBJR 2024 mendapat kesempatan pertama makan bersama Komandan KRI Dewaruci. Sayangnya, Komandan berhalangan datang sehingga diwakili oleh tiga anak buahnya. Meskipun begitu, obrolan kami berlangsung seru, sampai-sampai kami ketinggalan acara siang hari, yakni pembekalan dari Kapten Yudhi Saputro.
Siang menjelang sore, seiring dengan menjauhnya kapal dari daratan Pulau Sumatra, sinyal internet pelan-pelan menghilang dan saya tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Saat itulah terasa seakan-akan kami terisolasi dari dunia luas.
Saya pun hanya mencoba mengirim tulisan ke Tribunjabar.id di anjungan, dengan wifi yang hanya bisa diakses berdasarkan izin.
Saya kemudian mengajak ngobrol dua awak kapal yang bertugas di haluan. Keduanya mengemban kewajiban mengawasi objek-objek yang berada di depan, baik melalui mata telanjang maupun dengan teropong. Saya sempat mencoba teropong untuk melihat lebih jelas sebuah kapal yang semula nyaris berupa noktah di cakrawala.
Sore hari, langit bersaput awan meskipun tidak terlampau tebal. Karena itu, sayangnya, kami tidak bisa menikmati pemandangan matahari terbenam.
Kalau Zuhur dan Asar saya lakukan di sela-sela tempat tidur, salat Magrib, yang dilanjutkan dengan Isya secara jamak, berlangsung berjemaah di geladak atas.
Setelah itu, kegelapan melingkupi geladak atas sehingga tidak ada yang bisa kami lakukan di sana.
Setelah makan sore yang nyaris kehabisan, saya kembali ke ruang tidur. Semula saya berniat menulis, tapi kemudian mengobrol dengan rekan penulis Yudhi Herwibowo, ditambah dua jurnalis dari Liputan6 dan Tirto.id.
Kami tidur sekitar pukul sembilan.
Ternyata, pada dini hari terjadi badai. (*)
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Hari-ketiga-MBJR-2024.jpg)