Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024
Hari Ketiga: Meninggalkan Dumai, Membelah Laut, dan Kehilangan Sinyal Internet
Kami mulai membelah lautan dari Pelabuhan Dumai ketika matahari kira-kira sepenggalah, sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat, Rabu, 19 Juni 2024.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribunjabar.id Hermawan Aksan
AKHIRNYA kami mulai membelah lautan dari Pelabuhan Dumai ketika matahari kira-kira sepenggalah, sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat, Rabu, 19 Juni 2024.
Sebelumnya, semua peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 sudah bersiap sejak pukul 06.30 di lobi Hotel Grand Zuri, Kota Dumai.
Meskipun mata saya rasanya masih berat, kami, mulai kelompok Laskar Rempah, yang terdiri atas para mahasiswa dan anak-anak muda lulusan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, serta “laskar pendukung”, yang terdiri atas sejumlah jurnalis media, para penulis, dan beberapa pakar, menikmati sarapan mulai sekitar pukul enam pagi. Pilihannya nasi putih dan nasi kuning. Jadi, selama di Dumai, kami tidak mengecap makanan khas setempat.
Dari Hotel Grand Zuri, peserta MBJR 2024 diangkut beberapa mobil menuju pelabuhan. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dan ditempuh hanya dalam waktu sekitar lima menit. Sesampai di sana kami langsung masuk ke lambung KRI Dewaruci untuk menyimpan tas bawaan kami. Setelah itu, kami kembali ke dermaga.
Baca juga: Hari Pertama: Dari Bumiayu Menuju Dumai, sebelum Pelayaran Panjang hingga ke Malaka Malaysia
Di dekat dermaga sudah berdiri panggung tempat para pejabat setempat akan melepas tim MBJR 2024.
Mereka yang turut melepas antara lain perwakilan Wali Kota Dumai, perwakilan Dirjen Kebudayaan, dan banyak warga masyarakat. Kami juga dilepas oleh tari Dzafin kreasi yang dibawakan secara indah oleh para siswi SMP Negeri Dumai.
Saat menarik sauh, KRI Dewaruci pelan-pelan meninggalkan dermaga pelabuhan, diiringi lambaian tangan para pejabat dan warga Dumai. Kami juga melambai kepada mereka dan kepada Kota Dumai umumnya, seraya berseru “Terima kasih, Kota Dumai!”
Semua peserta MBJR 2024 menempati ruang tempat tidur yang biasanya ditempati para awak kapal: satu ruangan di geladak bawah itu memiliki 69 tempat tidur bertingkat tiga. Jadi, setiap orang menempati tempat tidur yang hanya bisa dipakai untuk berbaring karena bahkan untuk duduk pun tidak bisa. Pendingin di tempat itu cukup menyejukkan setelah ditimpa sinar matahari menjelang siang.
Baca juga: Hari Kedua: Pembekalan Berharga sebelum Membelah Laut dengan Kapal Dewaruci
Saya menempati tempat tidur di sisi paling kanan dan jika berbaring saya akan mendengar bunyi ombak laut yang menerpa dinding kapal. Ruang tidur memang terletak di bawah permukaan air laut.
Kapal Dewaruci tidak langsung mengarah ke utara, tapi sebaliknya ke selatan, untuk memutari Pulau Rupat. Mungkin selat di antara Dumai dan Pulau Rupat terlalu dangkal untuk dilalui sehingga akan membahayakan kapal.
Sambil mengawali pelayaran, para peserta MBJR 2024, terutama Laskar Rempah sebagai tim inti, mendapat pembekalan tentang KRI Dewaruci dan soal keselamatan di sepanjang perjalanan.
Oh, ya, berikut ini sedikit deskripsi tentang KRI Dewaruci.
Kapal Dewaruci berukuran panjang total 58,30 m, lebar lambung 9,50 m, dan bobot mati 847 ton. Kapal ini dibangun oleh H.C. Stülcken & Sohn Hamburg, Jerman, dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produk galangan kapal itu yang masih laik layar dari tiga kapal yang pernah diproduksi.
Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, tetapi terhenti karena, saat Perang Dunia II, galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.
| Hari Ke-20: Hari Terakhir Muhibah Budaya Jalur Rempah, Tangis Kembali Tumpah |
|
|---|
| Hari Ke-19: Pagi Terakhir di KRI Dewaruci dan Malam Pembukaan Festival Raja Ali Haji |
|
|---|
| Hari Ke-18: Lego Jangkar di Tanjung Uban, Tangis Peserta Muhibah pada Malam Terakhir di KRI Dewaruci |
|
|---|
| Hari Ke-17: Mencium Udara Hari Terakhir di Malaka dan Melanjutkan Muhibah ke Tanjung Uban |
|
|---|
| Hari Ke-16: Jumpa Sahabat di Malaysia, Kunjungi Masjid Selat Melaka, dan Hadiri Farewell Dinner |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Hari-ketiga-MBJR-2024.jpg)