Sabtu, 23 Mei 2026

Khutbah Idul Adha 1445 H

Qurban Sebagai Benteng Kekuatan Hawa Nafsu dalam Kehidupan

Suatu saat kita akan kembali kepada Sang Punya, baik dalam keadaan rido atau terpaksa, keadaan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka...

Tayang:
Editor: Arief Permadi
Dokumentasi Pribadi Nurdin Q
Ustaz Nurdin Qusyaeri, Dekan Fakultas Dakwah IAI Persis Bandung 

OLEH: NURDIN QUSYAERI, M.SI, DEKAN FAKULTAS DAKWAH IAI PERSIS BANDUNG

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah.

Alhamdulillah, pagi ini kita semua berkumpul untuk memperingati satu diantara sekian banyak hari-hari Allah. Hari-hari yang kelak akan menjadi saksi tentang jiwajiwa suci yang telah berjuang menggapai ketinggian; tentang jiwa-jiwa yang telah memberikan kematian untuk mendapatkan kehidupan. Untuk itulah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat hari-hari-Nya.

Lebaran Qurban tahun ini tiba di tengah situasi dunia yang sedang dirundung berbagai permasalahan besar, baik di tingkat internasional maupun nasional. Di tingkat internasional, khususnya di Palestina, penderitaan dan kegetiran masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penduduk Palestina hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, bahkan untuk menjalankan ibadah salat mereka. Setiap saat mereka dihadapkan pada ancaman serangan dari Israel, yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
Hingga saat ini, korban jiwa sudah mencapai 38.000 orang. Mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa. Tindakan Israel ini jelas melanggar perjanjian internasional dan menunjukkan kurangnya rasa perikemanusiaan.

Sebagai bentuk dukungan, kita perlu terus mendoakan mereka dan memboikot produk-produk yang mendukung Israel. Doa kita adalah bentuk solidaritas dan harapan untuk perdamaian dan keadilan. Boikot produk adalah langkah nyata untuk menunjukkan bahwa kita tidak mendukung tindakan kejam tersebut.

Di tingkat nasional, situasi bangsa ini tidak kalah memprihatinkan. Masyarakat banyak dililit kesusahan dan kesengsaraan yang nyaris seperti judul lagu "Jiwa Yang Bersedih". Harga bahan pokok terus meroket, tarif dasar listrik (TDL) naik, dan biaya hidup semakin sulit dijangkau. Lapangan kerja yang terbatas membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian, mendorong mereka ke dalam keputusasaan yang
mendalam.

Ketika hidup terasa begitu berat, tidak jarang kita mendengar kabar tragis tentang orang-orang yang bunuh diri atau saling bunuh. Kasus kekerasan dan pembunuhan minggu-mingu meningkat tajam. Nilai nyawa manusia seolah menjadi sangat murah, dengan banyak kasus teman membunuh teman, atasan membunuh bawahan, suami sampai mencincang istri sendiri, dan ada juga istri yang membakar suaminya. Ibu membunuh anak juga sebaliknya. Kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi semakin sering terjadi.

Masyarakat seolah tidak punya siapa-siapa untuk mengadu. Pemimpin yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan berkeluh kesah, kerap kali tak hadir.

Selain itu, maraknya perbuatan tidak bermoral seperti perjudian online dan pinjaman online juga menjadi masalah besar. Aktivitas ilegal ini tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga oknum aparat yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat. Keadaan ini menciptakan siklus masalah yang semakin sulit diatasi, menyebabkan penderitaan bagi banyak orang.

Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, Lebaran Qurban menjadi momen refleksi bagi kita semua. Qurban mengajarkan kita tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kasih sayang kepada sesama. Mari kita gunakan momen ini untuk meningkatkan kepedulian dan solidaritas kita, baik terhadap saudara-saudara kita di Palestina maupun terhadap sesama di negeri sendiri. Kita perkuat ikatan sosial, saling mendukung, dan bersama-sama mencari solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada.

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa LilLahil Hamd. Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah.

Pada hari yang mulia ini, 10 Dzulhijah 1442 H seluruh umat Islam di seantero dunia memperingati hari raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban. Sehari sebelumnya, 9 Dzulhijah 1445 H, ada sebagian umat Islam yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arafah, berkumpul di Arafah dengan memakai ihram putih sebagai lambang kesetaraan derajat manusia di sisi Allah, tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya kecuali takwa kepada Allah. Di

Hari ini juga kita kembali diingatkan kepada kisah seorang kholilulloh kekasih Allah SWT, Nabiyallah Ibrahim AS yang Allah uji kecintaan dan pengorbanannya, antara cintanya kepada keluarga (nabi Ismail AS dan Siti Hajar) dan cintanya kepada Allah. Ternyata cintanya kepada Allah melebihi segalanya, sehingga Ibrahim mendapat gelar, Khalilullah.. alias kekeasih Allah.

Bukti cinta dan taqwanya Ibrahim kepada Allah Swt. Itu, dikisahkan, Nabi Ibrahim pernah berqurban 1.000 kambing, 300 sapi, dan 100 unta. Menyaksikan Ibrahim itu membuat orang-orang dan para Malaikat berguncang! Ibrahim berkata:  “Setiap apapun yang membuat aku dekat dengan Allah, maka tidak ada sesuatu yang berharga bagiku. Demi Allah, jika aku mempunyai seorang anakpun niscaya aku akan menyembelihnya ke jalan Allah. Jika itu bisa membuatku dekat kepada Allah”. Itulah “sesumbar Ibrahim”.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved