Breaking News
Senin, 13 April 2026

''Suuzon Tak Terhindarkan,'' Din Syamsuddin Minta Muhammadiyah Tolak Izin Tambang, Banyak Mudarat

Din Syamsudin pun menilain izin kelola tambang yang diberikan pemerintah berpotensi menjadi sumber korupsi.

tribunenws.com
Din Syamsudin - Din Syamsudin menyerukan agar Muhammadiyah menolak tawaran izin tambang. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Izin tambang yang diberikan pemerintah untuk organisasi kemasyarakat (ormas) keagamaan masih jadi polemik.

Sebagian pihak merasa kebijakan tersebut menjadi potensi ekonomi, namun banyak pula yang menilai riskan konflik horizontal dengan masyarakat adat.

Salah satu yang menyoroti izin tambang adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2025 Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin menyerukan agar Muhammadiyah menolak tawaran izin tambang.

Baca juga: Ormas Dapat Izin Tambang, Menteri Siti Nurbaya: Daripada Setiap Hari Ajukan Proposal

Adapun permintaan penolakan tersebut karena Din Syamsuddin menilai tawaran tersebut lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaat.

"Saya mengusulkan kepada PP Muhammadiyah untuk menolak tawaran Menteri Bahlil dan Presiden Joko Widodo tersebut. Pemberian itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya," Ujar Din Syamsuddin, Selasa (4/6/2024) dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.

Menurutnya, Muhammadiyah harus menjadi solusi bagi masalah bangsa, bukan justru menjadi bagian dari masalah.

Tak hanya itu, Din Syamsuddin pun menilain izin kelola tambang yang diberikan pemerintah berpotensi menjadi sumber korupsi.

Din menjelaskan, dia husnuzon (berbaik sangka) pemberian konsesi tambang untuk Ormas Keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah dapat dinilai positif sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada mereka.

”Namun hal demikian sangat terlambat, dan motifnya terkesan untuk mengambil hati. Maka, suuzon (berburuk sangka) tak terhindarkan,” katanya.

Dia bercerita, sewaktu menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja sama Antar Agama dan Peradaban yang ditunjuk langsung oleh Presiden Jokowi, dia mempersyaratkan agar Presiden Joko Widodo menanggulangi ketakadilan ekonomi antara kelompok segelintiran yang menguasai aset nasional di atas 60 persen dan umat Islam yang terpuruk dalam bidang ekonomi.

”Presiden menjawab bahwa hal itu tidak mudah. Saya katakan mudah seandainya ada kehendak politik (political will). Yang saya mintakan hanya pemerintah melakukan aksi keberpihakan dengan menciptakan keadilan ekonomi dan tidak hanya memberi konsesi kepada pihak tertentu,” tuturnya.

Baca juga: PBNU Terima Tambang Batubara Besar, Presiden Jokowi Akan Teken

Juga dia minta agar mau menaikkan derajat satu-dua pengusaha muslim menjadi setara dengan taipan. Menurutnya, itu perlu agar kesenjangan ekonomi yang berhimpit dengan agama dan etnik tidak menimbulkan bom waktu bagi Indonesia.

”Kini tiba-tiba kehendak politik itu ada lewat Menteri Bahlil. Walau tidak ada kata terlambat, namun pemberian konsesi tambang itu tidak dapat tidak mengandung masalah,” ujarnya.

Menurut dia, pemberian konsesi tambang kepada NU dan Muhammadiyah tetap tidak seimbang dengan jasa dan peran kedua Ormas Islam itu. Tetap tidak seimbang dengan pemberian konsesi kepada perusahan-perusahaan yang dimiliki oleh kelompok segelintiran tadi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved