Hikmah Ramadhan

Hadiah Terindah Ramadhan

Bagi para salafushshalih Ramadhan adalah bulan berpacu dalam ibadah. Mereka menyibukkan dirinya dengan Al-Qur'an dan qiyamullail.

Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Ustaz Jumadi LC, M.Pd 

Oleh: Ust. Jumadi, Lc, M.Pd. - Kepala MDTA Al-Hidayah, Desa Prajawinangun Wetan, Kaliwedi, Cirebon


SALAH satu bentuk rahmat, cinta kasih sayang Allah Ta'ala yang besar kepada hamba-Nya adalah menganugerahkan kepadanya Ramadhan sebagai hadiah terindah. Hadirnya Ramadhan di tengah-tengah kita merupakan sebuah keistimewaan dan keutamaan yang sungguh luar biasa.

Ramadhan adalah bulan yang paling mulia penuh berkah dan istimewa di sisi Allah Ta'ala. Sehingga Rasulullah shallallahu a'alaihi wasallam dan para sahabat menjadikannya istimewa dalam kehidupan mereka.

Ramadhan adalah bulan puasa, bulan qiyamullail, bulan Al-Qur'an, bulan kedermawanan, bulan berkompetisi dalam kebaikan dan bulan pembebasan dari api neraka.

Disebutkan dalam riwayat yang shahih, apabila Ramadhan sudah mendekat, Rasulullah berkhutbah: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan pada bulan tersebut kepada kalian berpuasa. Pada bulan tersebut dibukalah semua pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, serta dibelenggulah syetan-syetan pembangkang. Pada bulan tersebut terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikan malam tersebut, sungguh dia telah diharamkan dari kebaikan.” (HR Tirmidzi).

Sungguh suatu busyro' (kabar gembira) dari Rasulullah shallallahu a'alaihi wasallam dengan kedatangan bulan Ramadhan. Maka para sahabat menyambutnya dengan penuh cinta dan suka-cita serta berharap setiap tahun umur mereka dipanjangkan Allah sampai bertemu kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya. Apalagi pertemuan dengan bulan Ramadhan dan dapat berpuasa serta beribadah di dalamnya dengan penuh iman dan perhitungan akan mengangkat derjat seorang hamba dibanding dengan yang sudah wafat duluan dan tidak bertemu Ramadhan.

Dikisahkan bahwa Abu Thalhah pernah bermimpi melihat dua orang sahabat yang sangat baik dan luar biasa dalam ketaatan. Sahabatnya yang pertama telah mati syahid lebih dahulu. Sedangkan sahabatnya yang kedua wafat biasa (tidak syahid) satu tahun setelah itu.

Kemudian Abu Thalhah melihat dalam mimpinya bahwa sahabat yang kedua itu lebih didahulukan masuk surga oleh Allah dari pada sahabat pertama yang mati syahid. Abu Thalhah sangat terheran dengan apa yang dia saksikan dalam mimpinya.

Cerita ini kemudian terdengar para sahabat Rasulullah dan mereka juga terheran-heran. Sehingga kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah tentang mimpi tersebut. Rasulullah shallallahu a'alaihi wasallam membenarkan mimpi tersebut dan berkata, “Apakah kalian heran dengan (mimpi) itu? Bukankah sahabat kedua tadi masih hidup satu tahun setelah yang pertama? Lalu dia juga bertemu lagi dengan Ramadhan dan berpuasa? Dan dia juga shalat sekian-sekian kali sujud (shalat) dalam setahun?” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah menimpali, “Jarak antara kedua orang tersebut lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.” (HR Ibnu Majah).

Bertemu dengan bulan Ramadhan lalu berpuasa, dan shalat setiap hari dengan baik dan sempurna, dapat mengalahkan derajat yang orang yang sudah wafat duluan yang tidak bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, sekalipun orang tersebut wafatnya dalam bentuk mati syahid.

Sungguh, betapa mulianya dapat hidup dan bertemu kembali dengan Ramadhan. Wajar saja kalau kemudian para salafus sholeh sangat gigih berdoa kepada Allah, sebagaimana Ibnu Rajab Al Hambali menukilkan bahwa Yahya bin Abi Katsir berdoa kepada Allah: “Ya Allah, sampaikanlah aku dengan selamat ke bulan Ramadhan, dan sampaikanlah ramadhan kepadaku, dan Engkau terimalah amal shalehku di bulan Ramadhan.”

Bagi para salafushshalih Ramadhan adalah bulan berpacu dalam ibadah. Mereka menyibukkan dirinya dengan Al-Qur'an dan qiyamullail.

Imam Sufyan Ats Tsauri bila sudah masuk bulan Ramadhan, beliau meninggalkan pekerjaannya. Beliau fokus bersama Al-Qur'an. Adapun Imam Syafi’i diriwayatkan bahwa beliau dalam bulan Ramadhan bisa mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali. Sedangkan imam Al Bukhari, bila datang bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali di siang hari, dan setiap tiga malam beliau khatam juga satu kali. Artinya total beliau khatam 40 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Imam Al Baihaqi meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daary menjadi imam qiyam pada malam Ramadhan. Mereka shalat panjang dengan surat-surat yang seratus ayat. Sampai mereka berdiri memakai tongkat dan baru berhenti dari qiyam menjelang waktu shubuh.

Imam Malik juga menceritakan bahwa Abdullah bin Abu Bakar shalat malam (Ramadhan) sangat panjang bersama kaum muslimin, sampai mendekati waktu fajar. Sehingga para tukang masak terburu-buru menyiapkan hidangan sahur saking mepetnya waktu mejelang shubuh. Dalam riwayat lain Al Baihaqi menceritakan bahwa mereka shalat malam Ramadhan membaca surat Al Baqarah dalam 8 rakaat.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved