Investasi Kereta Cepat Bisa Balik Modal dalam 48,3 Tahun, Tapi Penumpang Harus Penuh Setiap Hari

Namun, asumsi itu belum memperhitungkan biaya operasi, bunga pinjaman, dan tanpa pendapatan nonoperasional

Editor: Adityas Annas Azhari
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Warga berfoto seusai menjajal Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Stasiun Tegalluar, Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/9/2023). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Setelah kereta cepat WHOOSH terwujud, banyak yang menyoroti soal utang kepada Cina, khususnya kapan investasi triliunan rupiah itu bisa balik modal

Seperti diketahui banyak beredar di media sosial bahwa Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) ini baru bisa balik modal setelah lebih dari seratus tahun.

Benarkah demikian? Ekonom senior Faisal Basri pun melakukan sejumlah simulasi perhitungan mengenai potensi waktu pengembalian investasi proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

Pria kelahiran Bandung, 6 November 1959 itu membagi simulasi perhitungan ke dalam beberapa skenario.

Presiden Jokowi tiba di Stasiun Padalarang, KBB setelah meresmikan kereta cepat di Stasiun Halim, Jakarta, Senin (2/10/2023).
Presiden Jokowi tiba di Stasiun Padalarang, KBB setelah meresmikan kereta cepat di Stasiun Halim, Jakarta, Senin (2/10/2023). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Simulasi pertama ialah skenario perhitungan yang bisa disebut super optimistis.

Dalam skenario ini, Faisal Basri mengasumsikan, kereta cepat yang memiliki kapasitas 601 tempat duduk di setiap rangkain selalu terisi penuh dan memiliki 36 kali perjalanan setiap harinya.

Selain itu asumsi juga mempertimbangkan tarif tiket Rp 300.000. Adapun nilai investasi diasumsikan sebesar 8 miliar dolar AS, dengan kurs Rp 14.300 per dolar AS, sehingga nilai investasi setara Rp 114,4 triliun.

Baca juga: Harga Tiket Kereta Cepat Whoosh Dijual 18 Oktober 2023, Catat Jadwal Keberangkatannya

Namun, asumsi itu belum memperhitungkan biaya operasi, bunga pinjaman, dan tanpa pendapatan nonoperasional.

Dengan demikian, potensi pendapatan yang didapat dari asumsi itu ialah Rp 2,37 triliun setiap tahunnya sehingga, untuk mengembalikan nilai investasi semata senilai Rp 114,4 triliun, memerlukan waktu 48,3 tahun dalam skenario sangat optimistis.

"Tapi kan ini janji surga, asumsi surga," ujar dia, dalam diskusi publik 'Beban Utang Kereta Cepat di APBN' di Jakarta, Selasa (17/10/2023).

Baca juga: Foto-foto: Kecelakaan Kereta Api Argo Semeru dan Argo Wilis di Kulon Progo, 3 Korban Dibawa ke RS

Kemudian, apabila tempat duduk hanya terisi 75 persen, waktu yang diperlukan untuk balik modal adalah 64 tahun.

Lalu, apabila hanya terdapat 30 perjalan setiap harinya, proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) baru akan balik modal dalam 77,3 tahun.

Jika tarif kereta cepat diturunkan menjadi Rp 250.000, waktu pengembalian investasi pun semakin lama, yakni menjadi 92,7 tahun.

Apabila kurs diasumsikan menjadi Rp 14.500 per dolar AS, butuh waktu 94 tahun untuk balik modal.

Pakar Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri, yang sekarang menjadi Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas.
Pakar Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri (KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)

"Sekarang rupiah Rp 15.700 per dolar AS, ganti aja Rp 14.500 jadi Rp 15.700, (pengembalian investasi) 100 tahun," ujar dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Halaman
12
Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved