Minggu, 19 April 2026

Layanan berbasis teknologi Kian Diminati, Ini Potensi Pasar IoT di Indonesia

Layanan berbasis teknologi kian banyak dimanfaatkan termasuk Internet of Things (IoT) yang masih milik potensi besar di masa depan

Editor: Siti Fatimah
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi gaya hidup di era Internet of Things (IoT) 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Layanan berbasis teknologi Internet of Things (IoT), disadari atau tidak, terus menyeruak dalam kehidupan masyarakat Indonesia serta tinggal menunggu momen untuk jadi layanan massal.

Ambil contoh layanan live tracking, memantau pergerakan kendaraan, terutama pada layanan transportasi daring atau paket kurir, sudah makin jadi kelaziman masyarakat kontemporer. 

Maka itu, data dari Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) pada 2022 lalu menyatakan, potensi pasar IoT di Indonesia pada tahun 2022 lalu sudah mencapai 26 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 372 triliun.

Angka segemuk itu terutama bersumber dari sembilan sektor yakni makanan, minuman, kesehatan, pertanian, perkebunan, tambang, dan perminyakan.

Baca juga: Internet of Things Kini Sudah Merambah Papua, 5 Titik Smart PJU Sudah Berdiri

Jika dirincikan lagi, layanan IoT terbesar adalah dari sektor aplikasi sebesar 45 persen, platform (33 persen), perangkat (13 persen), dan jaringan (9 persen).

Ketua Umum (ASIOTI) Teguh Prasetya dalam webinar Menapaki Masa Depan Komunikasi Data menyatakan, pasar IoT di Indonesia pada 2025 mendatang diprediksi mencapai 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp 572,7 triliun dengan 678 perangkat IoT terhubung. Potensi besar ini seiring dengan minat serta kebutuhan dari masyarakat yang ada.

Menurut dia, tiga hal besar yang menggenjot IoT kian eksis di masyarakat. Yakni karena bias meningkatkan operasional dan efisiensi, meningkatkan kualitas kesehatan dan keamanan, serta meningkatkan produktivitas atau penjualan.  Data Indonesia IoT Forum menujukkan, kemungkinan 400 juta perangkat sensor di Indonesia yang telah terpasang IoT. 

Hal ini selaras tren dunia dari teknologi yang pertama dilontarkan Kevin Ashton (salah satu pendiri Auto-ID Labs, grup riset identifikasi frekuensi radio dari Massachusetts Institute of Technology) saat presentasi di hadapan Procter & Gamble di tahun 1999.

Data IoT-Analytics per Mei 2022 menyebutkan, konektivitas IoT di seluruh dunia sepanjang 2021 tumbuh sebesar 8 persen menjadi 12,2 miliar pengguna aktif.

Karena itu, sumbangan 400 juta perangkat dari Indonesia sebenarnya relatif masih sangat rendah.

Baca juga: Telkom Sinergi dengan Perguruan Tinggi Perluas Pengembangan Seni Manfaatkan Teknologi & Ruang Siber

Upaya Akselerasi

Doni Ismanto, Forum Indo Telko mengatakan, kebutuhan IoT di Indonesia sekarang telah lintas sektor industry.

Antara lain di sektor manufaktur, logistik, kota pintar (smart city), maupun rumah pintar (smart home).

“Sektor-sektor ini belum mengadopsi secara masif. Tingkat adopsi yang belum masif tersebut disebabkan berbagai industri masih mencari bentuk yang tepat untuk diimplementasikan. Tapi ini artinya potensi pasar masih besar untuk segmen-segmen tersebut,” katanya saat dihubungi, Rabu (14/3/2023).

Menurut dia, potensi besar akan terjadi ketika efisiensi dan efektifitas ditemukan sekaligus dari IoT. Apalagi, salah satu teknologi key pada era Revolusi industri 4.0 memang IoT, sehingga olah rupa dari layanan ini harus terus ditajamkan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved