Pernikahan Anak Usia SD dan SMP di Sumedang Picu Kekerasan, Termasuk Pembuangan Bayi

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sumedang mencatat ribuan pernikahan anak terjadi di Sumedang.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Warga di Dusun Nyalindung, Desa Mekarsari, Kecamatan Sukasari, Sumedang, digegerkan dengan penemuan mayat bayi perempuan, Rabu (18/1/2023) pagi. Pernikahan anak di Sumedang memicu kekerasan, yakni terhadap perempuan dan anaknya, termasuk pembuangan bayi. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Kiki Andriana dari Sumedang

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sumedang mencatat ribuan pernikahan anak terjadi di Sumedang.

Pernikahan anak adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak-anak di bawa usia matang untuk menikah.

Biasanya dilakukan oleh mereka yang berusia setara anak-anak sekolah SMP, bahkan ada pula yang SD.

Pernikahan anak memicu kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa berupa kekerasan terhadap perempuan dan anaknya.

Baca juga: Mayat Bayi Perempuan di Sukasari Sumedang akan Dibawa ke RS Sartika Asih Bandung, Ini Kata Polisi

"Risiko buruk dari pernikahan anak adalah kekerasan di dalam rumah tangga," kata Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB Sumedang, Eki Riswandiyah, kepada TribunJabar.id, Rabu (18/1/2023), melalui sambungan telepon.

Kekerasan itu termasuk juga membuang janin yang kemudian lahir dari pernikahan tersebut karena belum matang kondisi ekonomi orang tua sang bayi.

"Risiko lainnya adalah kematian ibu karena rahimnya belum cukup matang untuk hamil."

"Juga risiko bayinya stunting karena pola asuh dan pola makan yang belum sesuai sebagaimana seharusnya," kata Eki.

Baca juga: Presiden Jokowi Ingatkan Kepala Daerah untuk Mengatasi Stunting, Mengapresiasi Sumedang dan Jabar

Eki mengatakan, saat ini belum ada data pasti mengenai penyebab pernikahan anak di Sumedang.

Namun, secara umum, penyebabnya dapat dikategorikan kepada kondisi ekonomi lemah dan pergaulan yang kebablasan.

"Orang tua yang kondisi ekonominya lemah memilih untuk menikahkan anak perempuannya agar beban berkurang."

"Atau sebabnya juga karena pacaran yang kebablasan," kata Eki. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved