Sejak Januari Hingga 15 Desember 2022 Ada 695 Kasus Demam Berdarah di Ciamis, 8 Orang Meninggal
Sekadar pembanding selama tahun 2021, saat Covid-19 masih mendera, kasus DBD di Ciamis tercatat sebanyak 441 kasus, di antaranya 4 meninggal
Penulis: Andri M Dani | Editor: Adityas Annas Azhari
TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Selama tahun 2022 ini terhitung sampai Kamis (15/12/2022), sebanyak 695 orang warga Ciamis terpaksa dirawat di rumah sakit maupun puskesmas karena terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dari jumlah itu delapan orang diantaranya meninggal dunia.
Ke-8 warga Ciamis yang meninggal dunia akibat terjangkit DBD tersebut terjadi pada bulan Januari 2022 (3 orang), kemudian Mei (1 orang), Juli (1 orang), Agustus (1 orang) dan September ( 2 orang).
Menurut data dari Dinkes Ciamis, ke-8 warga Ciamis yang meninggal dunia akibat DBD tersebut, dua orang adalah anak balita (usia 1-4 tahun). Berikut kelompok usia anak-anak remaja usia 5 -14 tahun (2 meninggal), usia 15-44 tahun (1 eninggal) dan usia di atas 44 tahun ( 3 orang meninggal).

Berdasarkan jenis kelamin, penderita DBD yang meninggal dunia tahun 2022 ini adalah perempuan ( 5 orang) dan laki-laki (3 orang).
“Kasus terbanyak terjadi Januari yakni 127 kasus, di antaranya tiga orang meninggal dunia,” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis, H Acep Joni, SKM M.Epid kepada Tribun, Senin (19/12/2022).
Baca juga: Penyuluhan Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Warga Rw 11 Panyileukan
Total kasus DBD selama tahun 2022 ini meningkat tajam dibanding kasus DBD pada tahun 2021 termasuk jumlah penderita DBD yang meninggal dunia.
Sekadar pembanding selama tahun 2021, saat Covid-19 masih mendera, kasus DBD di Ciamis tercatat sebanyak 441 kasus , di antaranya empat orang penderita meninggal.
Baca juga: Masuki Musim Penghujan, Kenali Gejala Demam Berdarah, Begini Cirinya Menurut Dinkes Sumedang
Menurut Acep, angka kasus DBD terbanyak selama 2022 terjadi di wilayah kerja Puskesmas Ciamis ( 136 kasus), kemudian Puskesmas Handapherang (59), Baregbeg (55), Imbanagara (53), Cikoneng (50), Sadananya (37), Panjalu (37), Sindangkasih (25 kasus) dan Cijeungjing (23 kasus) yang merupakan daerah endemik DBD.
Hujan ekstrem, yang ditandai curah hujan tinggi berdurasi lama, diikuti dengan panas harian yang terik menjadi pemicu peningkatan populasi nyamuk aedes aegypti vektor penular DBD.
Baca juga: Kasus Demam Berdarah di Majalengka masih Tinggi, Sejak Januari 2023 Terhitung Ada 356 Kasus
Beberapa langkah penanganan yang dilakukan secara rutin dan umum adalah uoaya pemberantasan sarang nyamuk dan 3M Plus. Berikut pendistribusian larvasida melalui puskesmas setempat. Dan berbagai upaya lainnya termasuk fogging di daerah kasus. (*)