Ada Reaktor Nuklir di Tamansari Bandung, Warga Diminta Tak Khawatir Meski Sesar Lembang Aktif

Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dengan potensi aktivitas Sesar Lembang terhadap fasilitas nuklir di Bandung

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ravianto
TRIBUN JABAR/
Sejumlah warga Kota Bandung mengunjungi kantor Badan Tenaga Nuklir Indonesia Bandung, Jalan Tamansari 71, Kecamatan Coblong, Kota Bandung Jawa Barat, Rabu (2/12/2015). Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dengan potensi aktivitas Sesar Lembang terhadap fasilitas nuklir di Bandung, terutama reaktor nuklir di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Jalan Tamansari, Kota Bandung. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dengan potensi aktivitas Sesar Lembang terhadap fasilitas nuklir di Bandung, terutama reaktor nuklir di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Jalan Tamansari, Kota Bandung.

Koordinator Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Abdul Qohhar Teguh Eko Prasetyo, mengatakan pihak Batan telah memperkuat struktur bangunan reaktor nuklir di Bandung tersebut pada 2013. 

Ia mengatakan reaktor nuklir di Jalan Tamansari ini adalah yang tertua di Indonesia.

Koordinator Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Abdul Qohhar Teguh Eko Prasetyo, mengatakan, pihak Batan telah memperkuat struktur bangunan reaktor nuklir di Bandung tersebut pada 2013.
Koordinator Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Abdul Qohhar Teguh Eko Prasetyo, mengatakan, pihak Batan telah memperkuat struktur bangunan reaktor nuklir di Bandung tersebut pada 2013. (Tribun Jabar)

Sehingga dari sisi desain dan kekokohan bangunan, terus disesuaikan dengan standar internasional, termasuk mengenai ketahanannya terhadap bencana alam.

"Tahun 2013 kita mendapatkan informasi mengenai Sesar Lembang dari ITB, kalau misalnya Sesar Lembang ini aktif bisa memicu aktif sekian skala Richter, yang dampaknya cukup besar."

"Ketika mendapatkan informasi itu kami langsung menghubungi Batan di Tamansari itu, bilang tolong hentikan dulu operasinya," kata Abdul Qohhar di Bandung, Rabu (30/11).

Ia mengatakan Batan diminta untuk melakukan kajian terhadap gedungnya supaya tetap aman terhadap gempa yang ditimbulkan oleh Sesar Lembang.

Hasil kajian waktu itu menunjukkan bahwa harus dilakukan penguatan gedung reaktornya.

"Kemudian kita minta tetap menghentikan operasi sampai penguatan gedung selesai. Diharapkan dengan penguatan gedung selesai, kalau terjadi ada akibat Sesar Lembang dan semoga ini tidak terjadi, reaktor Bandung tidak akan terpengaruh setelah mereka melakukan penguatan," katanya.

Setelah reaktor dinonaktifkan sementara sejak 2013 dengan pemberhentian izin Bapeten, katanya, reaktor beroperasi lagi mulai sekitar tahun 2017 atau 2018.

Jadi, katanya, ada minimal empat tahun untuk penguatan gedung.

"Ada contoh yang kita lihat adalah di Yogyakarta, ada reaktor nuklir juga. Ketika gempa 2006, di sana bangunan-bangunan di sekitarnya hancur tapi gedung reaktor aman, tidak ada keretakan sama sekali. Karena memang sudah didesain untuk itu."

"Tapi untuk yang di Bandung ini dibangun tahun 65, kalau di Jogja tahun 79, jadi ada jeda waktu 14 tahun, itu sudah berkembang pengetahuannya," katanya.

Ia mengatakan teknologi nuklir di Indonesia di antaranya digunakan untuk penelitian, pelayanan kesehatan melalui unit radiologi, dan industri.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved