Angkot di KBB Kini Sepi Penumpang setelah Naikkan Tarif sampai 30 Persen

Angkutan kota (angkot) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini sepi penumpang setelah tarifnya dinaikkan sebesar 30 persen

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Ravianto
TRIBUN JABAR/ICHSAN
Angkota jurusan Lembang-Ciroyom tetap beroperasi seperti biasanya, gambar diambil di Jalan Grand Hotel Lembang, Rabu (19/11). Angkot atau angkutan kota di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini sepi penumpang setelah tarifnya dinaikkan sebesar 30 persen imbas dari naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Angkot atau angkutan kota di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini sepi penumpang setelah tarifnya dinaikkan sebesar 30 persen imbas dari naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kenaikan tarif angkutan umum tersebut sudah diterapkan sejak beberapa pekan yang lalu berdasarkan hasil kesepakatan Organda KBB dan Dinas Perhubungan KBB meskipun tanpa adanya Surat Keputusan (SK) Bupati Bandung Barat.

Ketua Organda KBB Asep Dedi Setiawan, sepinya penumpang angkot tersebut karena hingga saat ini belum banyak pengguna kendaraan pribadi di KBB yang beralih ke transportasi publik setelah kenaikan harga BBM. 

"Lihat saja sekarang banyak angkot yang kosong dan sepi penumpang, kalau ongkos mahal dan murah itu relatif, tapi dengan naik transportasi publik membuat kendaraan di jalan berkurang dan bisa meminimalisir terjadinya kemacetan," ujarnya saat dihubungi, Minggu (2/10/2022).

Selain itu, kata dia, transportasi publik di KBB sudah cukup terintegrasi dan bisa mengantarkan masyarakat ke berbagai tujuan, tetapi banyak yang beranggapan jika menggunakan transportasi publik banyak waktu terbuang dan ongkos menjadi lebih mahal. 

"Padahal dengan perhitungan harga BBM yang naik seperti sekarang, otomatis penggunaan kendaraan pribadi juga akan membuat pengeluaran lebih tinggi lagi," kata Asep.

Disinggung soal penerapan tarif angkutan umum, Asep mengatakan, sudah ada penyesuaian setelah harga BBM naik. Kenaikan yang disepakati adalah 30 persen dan itu telah diterapkan di lapangan serta masyarakat juga bisa memahami.

"Kenaikan tarif sudah berjalan dan itu ada kesepakan, jadi enggak ada gejolak di lapangan. Besarnya kenaikan sekitar 30 persen," ucapnya.

Untuk itu, pihaknya berharap kepada pemerintah agar memberikan bantuan subsidi kepada para sopir angkot yang sekarang bebannya semakin berat setelah BBM naik. 

Apalagi harga spare part juga, kata dia, saat ini turut naik, sementara penumpang semakin sepi karena harus bersaing dengan transportasi online.

"Semoga saja ada bantuan subsidi dari pemerintah ke sopir angkot, bukan ke pengusaha angkot. Sebab yang paling terdampak langsung adalah para sopir, yang berjuang di lapangan," ujar Asep.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved