Kasus Kekerasan Seksual di Sumedang Melesat, P2TP2A Bagikan Buku Saku Pencegahan Pelecehan

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumedang menyebutkan, melesatnya angka kasus dalam 7 bulan ini, nyaris menyamai

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Darajat Arianto
Tribun Jabar
Wakil Ketua P2TP2A Kabupaten Sumedang, Retno Ernawati, di ruang kerjanya, Jumat (8/7/2022). Kasus kekerasan seksual di Sumedang melesat, P2TP2A pun membagikan buku saku oencegahan kekerasan seksual. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id, Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Kasus kekersan seksual yang menimpa perempuan dan anak di Kabupaten Sumedang meningkat tajam.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sumedang menyebutkan, melesatnya angka kasus dalam 7 bulan ini, nyaris menyamai angka kasus dalam data tahun lalu, setahun penuh.

"Tahun lalu kasus yang dilaporkan kepada kami ada 34 kasus, sementara tahun ini, sampai bulan Juli saja sudah 30 kasus, ada peningkatan," kata Wakil Ketua P2TP2A Kabupaten Sumedang, Retno Ernawati saat diwawancarai TribunJabar.id, di ruang kerjanya, Jumat (8/7/2022). 

P2TP2A terus berupaya agar kasus yang ditangani selesai dan korban pada setiap kasus mendapat pendampingan yang maksimal. 

Namun, hikmah di balik meningkatknya kasus kekerasan seksual ini adalah semakin beraninya warga di Sumedang untuk melaporkan kasus yang mereka alami ke pihak berwajib. 

"Masyarakat sudah mau berbicara. Mereka berani melapor. Lingkungan tetangga juga berani melaporkan," katanya. 

Menyambut keberanian itu, P2TP2A membuka saluran pengaduan sebanyak mungkin dan menindak lanjuti setiap laporan. 

Baca juga: Murid SD di Buahdua Sumedang yang Dirudapksa Kakek Bejat Segera Dapat Pendampingan P2TP2A

"Ya, kami dapat informasi dari media kami tindak lanjuti, dari teman-teman SKPD di lapangan, kami tindak lanjuti juga sehingga akan lebih banyak kasus tertangani," katanya. 

Sayangnya, sumber daya P2TP2A terbatas, baik dari segi manusia dan anggaran yang digunakan. Sehingga tak jarang terdapat antrean penanganan kasus.

"Tapi kami selalu prioritaskan mana yang lebih perlu segera ditannganim tanpa mengabaikan urutan kasus berdasarkan laporan," katanya. 

Dia mengatakan, keluarga dan guru merupakan elemen penting dalam pencegahan kekerasan seksual perempuan dan anak.

Untuk semakin memperkuat peran kedua elemen itu, P2TP2A membagikan buku saku pencegahan kekerasan seksual

"Orang tua, guru bimbingan konseling (BK), sudah kami beri pemahaman tentang pencegahan ini, juga kami berikan buku saku," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved