Minggu, 17 Mei 2026

Budayawan Sunda Ungkap Nilai-nilai Kebajikan dalam Sesajen

"Nurani seseorang yang membuat sesajen itu tidak egois, tapi justru berpikir untuk keselamatan makhluk hidup lainnya," ujarnya.

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita
Sesajen berisi hasil bumi dalam sebuah upacara adat. Foto ini diambil saat warga Kampung Buni Asih menggelar upacara nadar atau tumbalan di Gunung Batu Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat (1/4/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG- Mirsi Insani (34) begitu tersentuh melihat penataan sesajen dalam peringatan 100 hari meninggalnya anak seorang budayawan Sunda.

Ia melihat orang-orang khusyuk menata sesajen tersebut. Lulusan pendidikan berbasis agama itu baru pertama kali menyaksikan pemandangan seperti itu.

"Aku melihatnya seperti ada ruang spiritualias di agama lain. Tidak ada penolakan dalam diri dan aku senang lihatnya karena ada ketulusan di dalamnya," ujarnya saat ditemui di Mandja Coffee, Jalan Riau, Kota Bandung, Minggu (17/4/2022).

Menurut Mirsi, kehadiran sesajen di lingkungannya sama sekali tidak mengubah sesuatu dalam dirinya.

Sebenarnya, rasa ingin tahu Mirsi akan keyakinan agama lain muncul sejak duduk di bangku pendidikan berbasis agama.

Minimnya informasi dan larangan mengakses gawai di dalam lingkungan itu membuat Mursi rajin ke perpustakaan untuk memuaskan rasa penasaran.

Baca juga: Bukan untuk Jurig, Ini Makna Kambing Hitam dan Sesajen Dalam Nadar di Gunung Batu Lembang

"Dunia pendidikan semestinya mengajarkan soal keagamaan lain dengan cara pandang berbasis keindahan. Selama menjadi santri, aku belajar agama lain, tapi sudah tentu pelajaran yang disuguhkan dalam bentuk perspektif agama tertentu dan sangat singkat," ujar Mirsi.

Menurutnya, setiap agama mengajarkan kebaikan dan kebaikan itu tidak bisa dibatasi hanya karena labelnya berbeda.

Dalam sesajen, ada berbagai jenis hasil alam di antaranya pisang, kumpulan bunga atau kembang sataman, umbi-umbian, telur ayam kampung, air kopi, air teh, dan air mineral.

"Dari sesajen ini, (kita) justru mengenang kembali untuk menghormati nilai-nilai kebajikan yang pernah diajarkan dengan harapan nilai-nilai ini bisa dilakukan kembali di hari ini," ujar Mirsi.

Anggapan negatif soal sesajen memang masih hidup di masa modern saat ini.

Budayawan Sunda, Lucky Hendrawan, mengatakan sesajen diambil dari kata Sastra Jendra Hayuningrat. Artinya adalah sastra yang bukan berupa aksara, bukan berupa tulisan, juga bukan sastra yang bisa bersuara.

"Sesajen merupakan konstelasi energi yang melahirkan vibrasi di semesta sebagai ruang energi," ujar Lucky Hendrawan saat ditemui di kediamannya, di Jalan Bukit Dago Selatan, Sabtu (2/4/2022).

Budayawan Sunda, Lucky Hendrawan, saat ditemui di kediamannya di Jalan Bukit Dago Selatan, Kota Bandung, Sabtu (2/4/2022).
Budayawan Sunda, Lucky Hendrawan, saat ditemui di kediamannya di Jalan Bukit Dago Selatan, Kota Bandung, Sabtu (2/4/2022). (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Baca juga: Sesajen Kepala Kambing dan Bunga Tujuh Rupa Untuk Bupati, Massa Tolak Tambang di Karawang Selatan

Melalui sesajen, ucapnya, para leluhur sudah mampu mengolah cara berkomunikasi di ruang kecerdasan semesta sehingga memicu energi dan banyak partikel yang mengubah banyak hal.

Lucky mengatakan, tidak mengherankan jika masih ada masyarakat yang berpikir negatif tentang sesajen karena mereka tidak mampu menembus ruang masyarakat adat yang masih memegang adat atau tradisi.

Di media sosial, misalnya, cukup banyak orang mempertanyakan sesajen yang biasanya ditemukan di gunung.

"Harusnya yang dilihat itu bukan labelnya, tetapi nurani kemanusiaan. Nurani seseorang yang membuat sesajen itu tidak egois, tapi justru berpikir untuk keselamatan makhluk hidup lainnya," ujarnya.

Sayangnya, kata Lucky Hendrawan, banyak orang yang mudah menghakimi dibandingkan mau memahami makna sesajen.

Simbol Kehidupan

Di dalam sesajen, ada beberapa unsur yang menjadi syarat utama, yaitu api, angin, air, dan tanah. Unsur-unsur itu nantinya mengeluarkan gelombang dan bersatu dengan ruang semesta.

Lucky memberikan analogi kopi hitam dan teh yang seringkali dihadirkan karena memiliki makna tertentu. Misalnya, makna kopi ini adalah sesuai dengan tingkat kedewasaan seseorang yang hidup penuh dengan tempaan.

Baca juga: Penendang Sesajen di Kawasan Semeru Sudah Ditangkap, Warga Demo Agar Pelaku Diproses di Lumajang

"Ketika dewasa, kehidupan itu seperti kopi. Hidup di ketinggian tertentu, terkena hujan dan panas matahari. Prosesnya hingga menjadi kopi untuk dinikmati pun cukup panjang. Ini perjalanan jiwa, manusia dewasa itu kehidupannya harus ditempa supaya tetap tumbuh," ujarnya.

Wewangian juga menjadi hal yang dijumpai dalam sesajen, ketika kemenyan dibakar dalam anglo menggunakan arang.

Biasanya seseorang akan membacakan doa lalu meniupkannya ke dalam arang sambil memasukkan kemenyan.

Menurut Lucky Hendrawan, di sinilah pertemuan antara angin, air, api, dan tanah sehingga memicu jadi asap yang bersatu dengan konstelasi lainnya dan menyebar dalam ruang kehidupan.

Di dalamnya, ada doa dari permohonan atau harapan yang berisi keselamatan.

"Setiap yang terlihat dan tidak terlihat memiliki cara bernapas masing-masing, tetapi ini kan ruang keabadian dan akan jadi rekaman. Jika doanya minta keselamatan, maka terjadilah. Seringkali metode ini dianggap tidak ilmiah," katanya.

Lucky tak menampik cukup banyak orang yang menghakimi kemenyan karena aromanya.

"Padahal kemenyan itu mahal dan menjadi komoditi skala internasional. Bahan baku parfum dasarnya adalah kemenyan, dan saripati minyak diambil dan digunakan. Di kita, enggak diubah jadi  parfum, bentuknya tetap kristal," ujarnya.

Menurut Lucky Hendrawan, doa yang paling layak adalah yang muncul dari hati nurani lubuk hati seseorang yang paling dalam sehingga mampu menghidupkan atau mengaktifkan hal yang diharapkan.

Ia pun menyayangkan orang tidak mau mempelajari dan tidak mengerti, tapi malah main hakim sendiri.

Liputan ini menjadi bagian dari program training dan hibah Story Grant: Mengembangkan Ruang Aman Keberagaman di Media oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) yang terlaksana atas dukungan International Media Support (IMS)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved