Breaking News:

Guru Rudapksa Santri

Kiai di Sumedang Ini Sebut Hukuman Mati Terhadap Guru Bejat Herry Wirawan Pantas, Ini Alasannya

KH Sa'dulloh menilai, pemberian hukuman mati bagi terdakwa Herry Wirawan oleh jaksa dari Kejaksaan Tinggi Jawa Barat merupakan hal yang pantas.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Hermawan Aksan
Humas Kejati Jabar
Terdakwa kasus rudapaksa 13 santriwati di Kota Bandung, Herry Wirawan, dengan tangan diborgol diapit petugas Kejati Jabar saat mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Bandung di Jalan LLRE Martadinata Kota Bandung, Selasa (11/1/2022). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pemberian hukuman mati bagi terdakwa Herry Wirawan (36), yang telah merudapaksa belasan santrinya di Bandung dan menyebabkan para korbannya hamil, kembali mendapat sorotan publik, termasuk kiai di Sumedang, Jawa Barat.

Salah satunya adalah KH Sa'dulloh, pemimpin Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang.

KH Sa'dulloh menilai, pemberian hukuman mati bagi terdakwa Herry Wirawan oleh jaksa dari Kejaksaan Tinggi Jawa Barat merupakan hal yang pantas.

"Menurut saya, tuntutan tersebut sangat pantas, " ucap Sa'dulloh kepada TribunJabar.id di Sumedang, Rabu (12/1/2022), melalui sambungan telepon.

Baca juga: Perempuan Nomor 1 di Jabar Setuju Herry Wirawan Dieksekusi Mati: Mewakili Kegeraman Publik

Selain itu, Sa'dulloh menuturkan, secara hukum Islam, orang yang telah beristri melakukan zina maka hukumannya dirajam sampai mati.

Kendati demikian, kata Sa'dulloh, wajar saja kalau terdakwa Herry Wirawan dituntut hukuman mati.

"Insyaallah tuntutan jaksa sudah pas, apalagi dia melakukannya terhadap banyak perempuan," tuturnya.

Sa'dulloh berharap kasus pencabulan terhadap belasan santriwati tersebut merupakan kasus yang terakhir di negeri ini.

"Ya, mudah-mudahan kasus ini kasus yang terakhir," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved