'Durhaka', Hutan Terlarang di Gunung Papandayan Garut Dibabat, Dampaknya Sudah Kejadian di Sukaresmi

Kepala Seksi BKSDA Jabar Wilayah Garut Dori Risandi menyebut ada lahan 3 hektare di cagar alam Gunung Papandayan dibabad

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Gunung Papandayan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Garut, Minggu (1/4/2018). 

TRIBUNJABAR.ID- Kepala Seksi BKSDA Jabar Wilayah Garut Dori Risandi menyebut ada lahan 3 hektare di cagar alam Gunung Papandayan dibabat.

Lahan 3 hektare di kawasan konservasi itu dialih fungsikan jadi lahan pertanian. Atas temuan itu, pihaknya melaporkan hal itu ke Polres Garut.

Hutan cagar alam sendiri kerap disebut hutan larangan atau hutan terlarang. Hutan terlarang diartikan sebagai hutan yang tidak bisa diakses untuk tujuan tertentu khususnya untuk kelestarian dan keseimbangan alam.

Di aturan konservasi, hutan cagar alam juga tidak bisa diakses atau dimasuki dengan bebas dan hanya bisa diakses dengan tujuan tertentu.

"Pembukaan kawasan Gunung Papandayan itu merupakan suaka alam yang dilindungi sehingga kami melaporkan untuk ditindak lanjuti ke arah penyidikan dan penegakkan hukum," ujar Dodi Risandi di Garut, Selasa (7/12/2021).

Baca juga: Paspampres Kaget, Tiba-tiba Ada Fenomena Alam Sebelum Jokowi ke Lokasi Letusan Gunung Semeru

Dodi menjelaskan kawasan alih fungsi itu juga memiliki kontribusi penyebab banjir bandang yang terjadi di Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut.

Pihaknya juga menemukan adanya tanah yang tergerus di kawasan alih fungsi lahan tersebut yang juga mengalir ke salah satu sungai yang menuju Desa Sukalilah.

"Di sana ada pembukaan lahan sehingga ada kontribusi adanya aliran tanah yang tergerus,erosi, sehingga menjadi banjir," ungkapnya.

Banjir Bandang yang terjadi di Desa Sukalilah pada Sabtu (6/11/2021) sore itu menyebabkan Jembatan Pelag terputus dan lima rumah rusak.

Baca juga: Petani di Bandung Terancam Penjara 10 Tahun Garap Kebun Wortel di Cagar Alam Gunung Papandayan

Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Dede Sopandi mengatakan pihaknya saat ini sedang menindaklanjuti pengaduan adanya alih fungsi lahan tersebut.

"Kami berusaha semaksimal mungkin melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan suatu tindak pidana itu, ancamannya adalah 10 tahun penjara," ujarnya dalan konferensi pers di Mapolres Garut, Selasa (7/12/2021).

Sat Reskrim Polres Garut menurutnya saat ini sedang melacak dan menyelidiki tentang adanya kerukan alam yang terjadi di kawasan Gunung Papandayan tersebut.

Pihaknya bekerjasama dengan BKSDA untuk mengungkap tindak pidana alih fungsi lahan yang sudah diatur dalam Pasal 19 Jo, Pasal 40 Undang-undang Negara Republik Indonesia nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Baca juga: Tiga Cerita Wanita Tangguh Selamat Setelah Dikepung Lahar Letusan Gunung Semeru, 34 Orang Meninggal

Adapun Gunung Papandayan ditetaplan sebagai kawasan Cagar Alam lewat Kepmenhut No 226/Kpts-II/1990 tanggal 8 Mei 1990 tentang Penentapan Areal Kawasan Hutan Gunung Papandayang seluas 6.807 hektar sebagai Cagar Alam dan 225 hektar sebagai Taman Wisata.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved