Rabu, 22 April 2026

BMKG Ingatkan Purwakarta Rawan Gempa Besar dari Sesar Lembang dan Megathrust Selat Sunda

‎Bahkan, pada 20 Agustus 2025 lalu, gempa berkekuatan magnitudo 4,9 sempat mengguncang, merusak sejumlah bangunan, dan memicu kepanikan warga. ‎

Diskominfo Kota Bandung
Suasana simulasi kebencanaan yang digelar di RW 15 Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Sabtu 23 Agustus 2025. Bencana yang disimulasikan adalah gempa Sesar Lembang yang tengah hangat diperbincangkan karena peningkatan aktivitasnya sejak beberapa bulan lalu. 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

‎TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kabupaten Purwakarta masuk dalam daftar wilayah rawan gempabumi di Jawa Barat. Letaknya yang berdekatan dengan Sesar Lembang dan West Java Back Arc Thrust membuat Purwakarta kerap merasakan getaran.

‎Bahkan, pada 20 Agustus 2025 lalu, gempa berkekuatan magnitudo 4,9 sempat mengguncang, merusak sejumlah bangunan, dan memicu kepanikan warga.

‎Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, ancaman gempa tak hanya datang dari sesar aktif.

‎Zona megathrust Selat Sunda, kata dia, juga menjadi momok. Jika skenario gempa besar M9,0 benar terjadi, Purwakarta berpotensi diguncang dengan skala VI-VII MMI.

‎"Meski tidak berisiko tsunami dampak guncangan diperkirakan bisa menimbulkan kerusakan serius pada bangunan dan infrastruktur," kata Rahayu kepada Tribunjabar.id, Senin (29/9/2025).

‎Melihat tren peningkatan aktivitas gempabumi di Jawa Barat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya upaya mitigasi berkelanjutan menuju zero victim.

‎Salah satunya, kata Rahayu, dengan mengembangkan Sistem Peringatan Dini Gempabumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS), yang dapat memberi peringatan beberapa detik sebelum guncangan terasa, meski masih ada keterbatasan pada daerah dekat pusat gempa (blind zone).

‎Sebagai bentuk nyata edukasi, BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menggelar Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) dan Tsunami di Kabupaten Purwakarta, Senin (29/9/2025).

‎"Kegiatan ini dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Irfan, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatiluhur, dan diikuti sekitar 50 peserta dari unsur BPBD, Forkopimcam, perangkat desa, pimpinan pondok, tokoh masyarakat, relawan, hingga para santri," ucapnya.

‎Tahun ini, SLG mengusung tema "10 Taun SLG, 10 Taun Ngawangun Kasiapsiagaan Pikeun Salamet tina Musibah Gempabumi di Wewengkon Jawa Barat" atau "10 Tahun SLG, 10 Tahun Membangun Kesiapsiagaan untuk Selamat dari Bencana Gempabumi di Wilayah Jawa Barat."

‎Sejak pertama kali digelar pada 2015, Rahayu menyebutkan, SLG telah menyentuh berbagai daerah rawan seperti Pangandaran, Garut, Sukabumi, Sumedang, hingga Tasikmalaya.

‎Selama sehari penuh, lanjut dia, peserta dibekali beragam materi mulai dari paparan potensi ancaman gempabumi, pengenalan produk informasi BMKG, teknik tanggap gempa, hingga simulasi jalur evakuasi. Ada pula Table Top Exercise (TTX) serta penyusunan rekomendasi tindak lanjut.

‎Tak hanya itu, secara paralel BMKG juga menggelar Goes to School di lingkungan pesantren untuk siswa MI, MTs, dan MA Al-Irfan. Sebanyak 400 murid dan guru ikut ambil bagian dalam edukasi kesiapsiagaan bencana ini.

‎Ia mengatakan, SLG menjadi wadah penting untuk menanamkan budaya tanggap bencana sejak dini.

‎"Purwakarta punya potensi gempa yang nyata. Melalui kegiatan ini, kami ingin masyarakat lebih paham dan terampil dalam menghadapi ancaman gempabumi. Harapannya, kesiapsiagaan yang dibangun bisa benar-benar menyelamatkan nyawa," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved