Breaking News:

Apa Itu Varian Delta Plus atau AY.4.2 Hasil Mutasi Virus, Berbahayakah? Ini Kata Pakar

Varian Delta Plus atau AY.4.2 merupakan hasil  mutasi alamiah yang terjadi pada virus termasuk SARS-CoV-2.

Editor: Siti Fatimah
Pixabay
ilustrasi virus corona 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D., mengatakan varian Delta Plus atau AY.4.2 merupakan hasil  mutasi alamiah yang terjadi pada virus termasuk SARS-CoV-2.

Dikutip dari laman resmi UGM, namun demikian, hasil mutasi tidak selalu lebih berbahaya. “Sekali lagi AY.4.2 belum ada bukti yang menunjukkan lebih ganas ya ataupun lebih mudah menular dibandingkan varian induknya, varian Delta (B.1.617.2),” kata Gunadi, Senin (15/11).

Gunadi menyebutkan sampai saat ini belum ada bukti riset soal tingkat keganasan varian ini lebih berbahaya dari dari varian Delta.

Baca juga: Ahli Unpad Jelaskan Kenapa Mutasi Virus Bisa Jadi Lebih Bahaya, Seperti Virus Corona Varian Delta

“Otoritas Kesehatan Inggris juga baru menggolongkannya menjadi Variant Under Investigation, belum VOI ataupun VOC,”paparnya.

Meski varian ini berasal dari Inggris dan saat ini sudah terdeteksi di Malaysia, menurutnya pemerintah tetap harus memperketat perbatasan untuk mengantisipasi masuknya setiap varian baru.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona (freepik)

”Sebetulnya pencegahan penyebaran varian apapun termasuk AY.4.2 sama. Mestinya pemerintah sudah antisipasi termasuk terkait perbatasan antar negara,” tegasnya.

Baca juga: Berkaca pada India, Mutasi Virus Korona Ancam Anak-anak dan Remaja, IDAI: Waspada Sekolah Tatap Muka

Soal kenaikan lonjakan penularan kasus Covid-19 di Inggris belakangan ini menurutnya belum tentu disebabkan oleh varian tersebut. Sebab, kenaikan penularan juga dipicu oleh longgarnya penerapan pembatasan dan protokol kesehatan. “Tergantung banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah bagaimana aktivitas masyarakat khususnya prokes,” ujarnya.

Menurutnya, protokol kesehatan harus diperkuat dalam segala aktivitas kegiatan di masyarakat hingga tercapainya kekebalan komunal. Sepanjang Covid-19 belum terkendali dan imunitas kelompok belum terbentuk, prokes ketat dan pembatasan kegiatan warga tetap perlu diutamakan oleh pemerintah. “Kuncinya satu, prokes. Sampai kapan? sampai kekebalan komunal tercapai,”pungkasnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved