Breaking News:

Kecewa dan Jatuh Sakit tak Lolos PPPK, Sutardi Tetap Teruskan Masa Tugas Guru Honorer 2 Tahun Lagi

Karena tak lolos seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) 2021 kemarin, Sutardi sempat jatuh sakit selama dua hari.

Sutardi (58) gagal lolos jadi PPPK walau nilai seleksi dua kali lipat passing grade. (Dok. Pribadi) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Suryaman

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Sutardi (58), guru SD Timuhegar, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, berjanji akan menyelesaikan masa tugas yang tinggal dua tahun lagi.

"Meskipun saya kecewa tak lolos PPPK 2021, saya tetap akan mengabdi menjadi guru honorer hingga habis dua tahun lagi," ujar Sutardi, Sabtu (16/10/2021).

Karena tak lolos seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) 2021 kemarin, Sutardi sempat jatuh sakit selama dua hari.

Baca juga: Guru Tua di Tasik Ini Sempat Sakit Begitu Tahu tak Lolos PPPK 2021, Kini Pasrah Terima Nasibnya

Bagaimana tidak, Sutardi sebenarnya memiliki nilai tinggi 696 atau hampir dua kali lipat passing grade sekitar 350.

Meski begitu keberuntungan belum berpihak pada guru yang mengajar di daerah pelosok wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya ini.

Ternyata ada peserta lain satu formasi yang memiliki nilai 704. Praktis Sutardi pun tersingkir karena kuotanya memang hanya satu.

"Beda angka tipis inilah yang sempat membuat saya sedih hingga akhirnya jatuh sakit," kata Sutardi.

Cukup banyak impian yang diidamkan Sutardi seandainya ia lolos seleksi. Sudah tentu gajinya akan melonjak dari Rp 250.000 sebagai tenaga honorer menjadi lebih dari Rp 2 juta sebagai PPPK.

Di antaranya akan menabung untuk biaya sekolah si bungsu yang saat ini baru menginjak SD.

Baca juga: Guru Tua Ini Tetap Tak Lolos Menjadi PPPK Meski Nilai Seleksi Dua Kali Lipat Passing Grade

Namun Sutardi mengaku kondisi mental dan psikisnya kini jauh lebih baik.

"Saya siap mengajar anak-anak lagi dengan tetap berstatus guru honorer. Kepala sekolah pun memberikan dorongan moril," ujar Sutardi.

Ia sendiri selama ini menekuni profesi sebagai penjahit pakaian. Usaha yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya ini, dikerjakan sepulang mengajar.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved