Breaking News:

Respons Kepala PPATK Saat Tahu Ada yang Menyumbang 2 Triliun, Tak Langsung Percaya, Dugaannya Benar

Dian tak langsung percaya ketika ada orang mau menyumbang Rp 2 triliun. Insting PPATK memang praduga bersalah, bukan praduga tak bersalah.

Editor: taufik ismail
Tribunnews.com / Syahrizal Sidik
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Berita sumbangan Rp 2 triliun dari keluarga mendiang Akidi Tio untuk bantuan kemanusian penanganan Covid-19 melalui Polda Sumatera Selatan menjadi isu buah bibir belakangan ini.

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae, bercerita saat mendengar berita ini.

Sontak saja Dian Ediana Rae tidak langsung percaya.

Dian, begitu pria bergelar Doktor Hukum Keuangan itu disapa, mengaku langsung memerintahkan jajarannya untuk memantau profil penyumbang fantastis itu.

Berikut wawancara eksklusif Tribun Network dengan Dian Ediana Rae, belum lama ini.

Tanya (T) : Ketika ada seseorang ingin mentransfer uang dengan jumlah besar sekali, apa peran PPATK?

Jawab (J) : Berdasarkan UU nomor 8 tahun 2010 dan UU nomor 9 tahun 2013 memang PPATK secara eksplisit dinyatakan sebagai lembaga intelijen keuangan. Jadi tugas utama kita adalah melakukan analisis dari setiap transaksi keuangan yang dianggap mencurigakan. Itu adalah suatu kewajiban pokok PPATK.

Kalau saya mencoba mengaitkan langsung apa yang terjadi dengan kasus sumbangan Rp 2 triliun, PPATK harus turun tangan karena ada tiga hal. Pertama, transaksi keuangan dalam jumlah besar seperti ini setelah kita hubungkan profil pemberi atau kita sebut profiling ini ada inkonsistensi.

Kedua, ada kriteria mencurigakan. Ketiga, penerima. Seandainya Departemen Sosial, misalnya, atau lembaga yang secara tupoksi dapat menerima sumbangan, katakanlah Satgas Covid-19 atau BNPB, mungkin tidak menimbulkan persoalan.

Tetapi begitu yang menerima sumbangan lembaga kategori politically exposed persons (PEPs), itu adalah kriteria pejabat dari pusat sampai daerah dan dari berbagai level yang memang merupakan person yang kita anggap sensitif. Perlu kita klarifikasi seandainya ada transaksi seperti ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved