Senin, 27 April 2026

Beras Melimpah Ruah Tapi Dijual di Atas HET, AEPI Nilai Janggal: Ada Persoalan Tata Niaga

Fenomena kenaikan harga beras sedang terjadi di tengah kondisi panen raya dan melimpahnya stok.

Penulis: Nappisah | Editor: Kemal Setia Permana
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
STOK MELIMPAH - Foto arsi[ stok beras melimpah gudang di Perum Bulog Jabar. Fenomena kenaikan harga beras sedang terjadi di tengah kondisi panen raya dan melimpahnya stok. 

Ringkasan Berita:
  • Fenomena kenaikan harga beras sedang terjadi di tengah kondisi panen raya dan melimpahnya stok
  • Pengamat menilai situasi ini tidak lazim dan menunjukkan adanya persoalan dalam tata niaga beras nasional
  • Kenaikan ini kembali menyumbang inflasi, meski dalam angka relatif kecil
  • Berdasarkan proyeksi BPS, produksi beras pada Maret 2026 mencapai 5,21 juta ton dengan surplus sekitar 2,62 juta ton setelah dikurangi konsumsi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Fenomena kenaikan harga beras sedang terjadi di tengah kondisi panen raya dan melimpahnya stok.

Hal ini disorot pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Khudori.

Khudori menilai situasi ini tidak lazim dan menunjukkan adanya persoalan dalam tata niaga beras nasional.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 April 2026, harga beras di semua lini mengalami kenaikan. 

Di tingkat penggilingan, harga naik dari Rp13.543 per kg pada Februari menjadi Rp13.617 per kg di Maret 2026. 

Sementara di tingkat grosir, harga meningkat dari Rp14.282 menjadi Rp14.419 per kg, sementara di eceran naik dari Rp15.099 menjadi Rp15.197 per kg. 

Kenaikan ini kembali menyumbang inflasi, meski dalam angka relatif kecil.

Baca juga: Persentase Juara Persib 55 Persen, Borneo FC dan Persija Tergantung Langkah Pangeran BIru

"Kondisi ini janggal karena terjadi saat produksi melimpah," ucapnya. 

Berdasarkan proyeksi BPS, produksi beras pada Maret 2026 mencapai 5,21 juta ton dengan surplus sekitar 2,62 juta ton setelah dikurangi konsumsi.

“Ketika produksi melimpah, harga biasanya turun,” katanya.

Selain itu, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola BULOG juga dalam jumlah besar, mencapai 4,3 juta ton. Namun, harga beras justru tetap tinggi.

“Ada paradoks, stok CBP melimpah kok harga beras malah naik atau tetap tinggi?” ucapnya.

Khudori menambahkan, fenomena lain yang luput dari perhatian adalah harga beras di zona II dan III yang mayoritas berada di atas harga eceran tertinggi (HET). 

Kondisi ini disebut sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved