Magot, Bisa Jadi Solusi Pengurai Sampah Popok Sekali Pakai, Begini Cara Pemanfaatannya
Magot bisa menjadi salah satu cara atasi persoalan sampah termasuk sampah popok sekali pakai
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR. ID, BANDUNG -Taukah Anda jika saat ini jumlah sampah di Indonesia yaitu sekitar 67 juta ton dan sekitar 7,2 jutanya adalah sampah plastik.
Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, bahkan dijuluki sebagai negara dengan jumlah sampah plastik laut terbesar kedua di dunia.
Memiliki misi dalam peduli lingkungan, PT Uni-Charm Indonesia memperkenalkan konsep baru yaitu 'Ethical Living for SDGs'.
Konsep ini tidak hanya memberikan kenyamanan bagi banyak konsumen, tetapi juga secara konkrit mencapai tujuan SDGs (Sustainable Development Goals).
Baca juga: Bertahan ditengah Pandemi Covid-19, Wahyu dan Pemuda Desa Cibuntu Kembangkan Budidaya Magot Kering
Selama ini, PT Uni-Charm Indonesia telah melakukan upaya nyata untuk mewujudkan konsep tersebut, salah satunya adalah meluncurkan produk Charm dan Protect Pollution Mask dalam kemasan berbahan kertas daur ulang.
Upaya terbaru yang sedang dilakukan oleh mereka adalah, meneliti solusi pengolahan sampah popok sekali pakai secara organik dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (Maggot).
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara mengurai popok sekali pakai tanpa membuangnya sebagai solusi konkret masalah sampah yang efisien, murah, dan ramah lingkungan.
Corporate Plan Representative PT Uni-Charm Indonesia, Denti Nila Purwanti mengatakan, hal ini dilakukan karena sampah popok sekali pakai termasuk masalah yang cukup serius di Indonesia.
"Selain permasalahan plastik, sampah popok bekas sekali pakai menjadi salah satu permasalahan yang sangat serius di Indonesia. Kami melihat kegiatan masyarakat yang masih membuang sampah popok ke sungai," tutur Denti saat jumpa pers virtual, Kamis (29/7/2021).
Sementara itu, General Manager PT Uni-Charm Indonesia, Yasushi Yoshioka berharap, eksperimen ini bisa dijadikan pilihan solusi untuk masalah limbah popok.
Ia menjelaskan, konsep Ethical Living for SDGs yang menangkap isu lingkungan di Indonesia bisa membantu minat konsumen terhadap produk ramah lingkungan.
Yasushi juga menjelaskan, alasan dipilihnya maggot adalah karena kapasitas penguraian sampah organik sangat tinggi.
Artinya adalah maggot memiliki kemampuan untuk terurai dengan kecepatan tinggi.
"Larva yang menguraikan sampah organik dengan kecepatan tinggi dan tumbuh menjadi pakan yang baik dengan kandungan protein tinggi, sehingga dapat menjadi solusi yang efisien, murah, dan ramah lingkungan," ungkapnya.
Baca juga: Kurnia Agustina Minta Sampah Dipilah sejak di Tingkat Rumah Tangga, Pakai Magot Hasilkan Benefit
Melalui penelitian ini, mereka melihat sesuai dengan proses pengolahan popok sekali pakai (pulp) juga.
Untuk memudahkan maggot dalam memakan bagian pulp dari popok sekali pakai, pihaknya melakukan proses sakarifikasi pulp dengan selulase atau enzim.
Hasilnya, dipastikan bahwa maggot yang dimasukkan ke dalam popok sekali pakai yang diproses sakarifikasi bertumbuh dengan baik, dan bahwa pertumbuhannya dipercepat dengan mencampurkan sampah organik.
Eksperimen ini merupakan eksperimen pertama yang dilakukan oleh perusahaan FMCG Indonesia sebagai langkah nyata kedua dari Ethical Living for SDGs.
Hal Ini bertujuan untuk menemukan cara mengurai popok sekali pakai tanpa membuangnya sebagai solusi masalah sampah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/magot-pengurai-sampah.jpg)