Bertahan ditengah Pandemi Covid-19, Wahyu dan Pemuda Desa Cibuntu Kembangkan Budidaya Magot Kering
Imbas pandemic covid-19 berkepanjangan membuat sejumlah pemuda di Desa Cibuntu,Kuningan membudidayakan maggot kering dan pelihara ayam kampung
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Imbas pandemic covid-19 berkepanjangan membuat sejumlah pemuda di Desa Cibuntu, Kecamatan Cigandamekar, Kuningan ini melakukan terobosan, yakni bisnis maggot kering dan budidaya ayam kampung.
Wahyu (37), salah satu pemuda yang menggeluti bisnis magot mengatakan, pandemi Covid-19 menghantam sektoe ekonomi salah satunya sulitnya mendapat pekerjaan.
Karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, Wahyu bersama dua temannya mencoba menggarap magot.
Baca juga: HORE, 2 Flyover Baru di Kota Bandung Selesai Akhir Tahun Ini
Magot adalah sejenis ulat yang bisa dijadikan pakan untuk ternak atau pun ikan.
"Saya dengan dua teman memilih bisnis magot kering. Magot kering ini bisa langsung dijual, biasanya dimanfaatkan untuk pakan burung, ikan,dan ternak lainnya," kata Wahyu ditemui di kampungnya, Minggu (29/11/2020).
Menurutnya, budidaya magot tidak terlalu sulit karena tidak membutuhkan banyak modal da tempat.
Baca juga: MER-C Kritik Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Dianggap Tidak Beretika kepada Rizieq Shihab
Ia hanya menyediakan tempat untuk berkembang biak magot, serta membudidayakan dengan cara memberi pakan ulat atau magot dengan memanfaatkan makanan sisa dan lainnya yang mudah didapat.
Untuk proses selanjutnya, kata Wahyu, magot yang sudah bisa dipanen masuk dalam tahap atau proses pengeringan dengan menggunakan alat khusus yang juga dibuat secara tradisional.
Setelah magot benar-benar pas keringnya, langsung dikemas dan siap dipasarkan.
"Kami jual perbungkus Rp 15 ribu," kata Wahyu.
Baca juga: Di Sukabumi, 29.090 Pelanggar Protokol Kesehatan Ditindak dalam Tiga Bulan
Selain budidaya magot, Wahyu juga mencoba peruntungan dibisnis ayam kampung.
Menurutnya, dipilihnya bisnis ini karena dinilai tidak terlalu sulit termasuk untuk pemberian pakannya.
"Untuk pakan atau proses pemeliharaan ayam kampung, selain diberi makanan ayam pada umumnya, untuk perawatan kami juga menggunakan ramuan tradisonal, ini kami berikan sebagai upaya menjaga kesehatan ayam peliharaan tersebut,” katanya.
Untuk ayam kampung yang dipeliharanya, tidak ada pembeli khusus atau ia memasok khusus ke suatu tempat.
Baca juga: BLT Pekerja Swasta Tahap 5 Sudah Cair, tapi Masih Banyak yang Belum Menerima, Apakah Ada Tahap 6?
Menurutnya, siapa pun boleh beli dengan harga jual mulai dari Rp 30-70 ribu per-ekornya.
Meski belum berada di jumlah omset besar, kata Wahyu, usaha mandiri yang dilakukan ini sudah memberikan pemasukan cukup baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/budidaya-magot-ditengah-pandemi-covid-19.jpg)