Angka Kematian Covid-19 di Jabar naik 463 persen, Didominasi Lansia dengan Penyakit Penyerta
Terdapat lima provinsi yang berkontribusi tertinggi yaitu Jabar naik 463%, diikuti DKI Jakarta naik 236%, DI Yogyakarta naik 148%, Jatim naik 145%
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Mega Nugraha
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rata-rata angkat kematian Covid-19 yang terjadi pada puncak pandemi Covid-19 kedua di Indonesia sangat tinggi, mencapai lebih dari 400%.
Terdapat lima provinsi yang berkontribusi tertinggi yaitu Jabar naik 463%, diikuti DKI Jakarta naik 236%, DI Yogyakarta naik 148%, Jatim naik 145%, dan Jaten naik 75%.
Baca juga: Persediaan Oksigen di Jabar Tidak Merata, Jabar Fokus Perbaiki Manajemen Distribusi Oksigen ke RS
Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan kenaikan kematian yang tinggi ini seharusnya segera diperbaiki dengan menghindari potensi kematian pada pasien Covid-19.
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan berpatok pada kasus aktif saat ini sehingga dapat menyelamatkan nyawa sebanyak-banyaknya dari kasus yang aktif saat ini.
“Angka kematian Covid-19 yang terus meningkat ini tentunya tidak dapat ditoleransi, karena 1 kematian saja terbilang nyawa,” kata Wiku melalui siaran digital, Kamis (1/7).
Saat ini, provinsi yang menyumbangkan kasus aktif tertinggi adalah DKI Jakarta, dengan 57.295 kasus, disusul Jabar 43.436 kasus, Jaten 33.805 kasus, DIY 8.917 kasus dan Jatim 7.488 kasus. Dengan banyaknya kasus aktif saat ini, maka belum terlambat untuk menjaga agar kematian tidak semakin bertambah.
Fokus utama dalam menekan angka kematian Covid-19 adalah memastikan penanganan pasien Covid-19 sebaik mungkin, utamanya pada pasien gejala sedang-berat.
Namun sayangnya, melihat fakta bahwa saat ini kelima Provinsi ini memiliki keterisian tempat tidur Isolasi dan ICU di atas 70%, bahkan DKI mencapai lebih dari 90%, maka keadaan ini akan mempersulit penanganan pada pasien gejala berat.
Baca juga: Jenazah Pasien Covid-19 Menumpuk di RSUD Bekasi, Sehari Ada 73 Orang Meninggal Karena Covid-19
Perlu diperhatikan juga, katanya, bahwa fokus pencegahan kematian dapat dilakukan berdasarkan kelompok usia yang paling rentan. Di kelima provinsi, persentase kematian yang paling tinggi terjadi pada kelompok usia lansia.
Hal ini dapat disebabkan oleh tingginya komorbid pada lansia, serta imunitas yang semakin menurun seiring bertambahnya usia. Sekitar 5-19% lansia yang terkena covid, meninggal dunia.
Meskipun kematian yang terjadi di kelompok anak tidak setinggi kelompok dewasa dan lansia, namun kelompok anak dapat menjadi rentan apabila luput dari pengawasan.
Hampir di kelima provinsi ini, kematian pada kelompok anak didominasi oleh balita, yaitu sekitar 30-50% dari total
kematian anak.
“Untuk itu, dimohon kepada seluruh pemerintah provinsi untuk melihat lebih dalam pada angka kematian akibat Covid-19," ujarnya.
Selanjutnya, Satgas Covid-19 juga meminta kepada pemerintah daerah untuk memastikan rumah sakit rujukan Covid-19 memadai, dan jika diperlukan segera melakukan konversi tempat tidur.
Selain itu, pemerintah daerah juga harus meningkatkan tracing, utamanya pada pasien lansia dan dengan kondisi komorbid, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Hal yang perlu juga dilakukan adalah membatasi aktivitas lansia, anak-anak khususnya balita, maupun kelompok rentan lainnya di ruang publik. Dalam kondisi seperti ini, peran keluarga atau
orang-orang terdekat menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko kematian pada kelompok rentan.
“Saya mengapresiasi tindakan Satgas COVID-19 Depok yang secara konkrit melarang ibu hamil, lansia dan balita untuk masuk ke dalam mall atau pusat perbelanjaan. Diharapkan daerah-daerah lain juga bisa mengikuti tindakan tegas ini,” tutur Wiku.