Perawat Dipukul Keluarga Pasien
Awal Mula Pemukulan Nakes di Pameungpeuk Garut, Pasien Positif Covid-19 dan Baju APD
Tuti mengatakan pemukulan terjadi karena pelaku merasa kesal menunggu korban yang sedang mempersiapkan diri untuk memakai APD lengkap.
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Ravianto
Namun, itu rupanya membuat pelaku kesal.
"Pelaku sempat bertanya, 'Kenapa memakai baju APD, kan ayah saya bukan Covid '. Itulah alasannya sehingga terjadi pemukulan," ungkap Tatang.
Komandan Kodim 0611 Garut, yang juga Wakil Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Garut, Letkol CZi Deni Iskandar, saat ini mereka masih mengejar pelaku pemukulan itu untuk mereka serahkan pada kepolisian.
"Pelaku diduga kabur. Sudah saya perintahkan anggota agar mencari pelaku sampai dapat ditangkap," ungkapnya.
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman sangat menyesalkan peristiwa ini. Menurutnya saat ini nakes sedang kesulitan dengan membludaknya pasien Covid-19.
"Pemukulan ini tentu sangat kami sesalkan. Ini tidak boleh terjadi lagi," ujarnya.
Helmi menjelaskan saat ini nakes yang menjadi korban pemukulan sudah melakukan visum ."Hasil visum, perawat yang kena pukul itu mengalami luka memar di rahangnya," kata Hermi.
Wakil Gubernur Sedih
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengaku sangat terkejut sekaligus sedih saat mengetahui peristiwa tersebut.
"Pemukulan kepada insan kesehatan, kepada mereka yang sedang dinas ini, menurut kami tidak baik, apapun alasannya," kata Uu saat dihubungi, Kamis (24/6).
Ia berharap, ke depan bisa terbangun komunikasi yang lebih baik antara antara insan kesehatan dengan pasien, keluarganya, dan masyarakat, supaya mereka mengerti dan memahami apa yang menjadi kebijaksanaan dan kebijakan pihak rumah sakit ataupun puskesmas dalam merawat pasien.
"Kemudian juga jangan ada arogansi di antara mereka, baik dari pihak insan kesehatan, dalam bicara dan dalam bertindak, jangan sok punya tanggung jawab, sok punya kewenangan. Sebaliknya, pihak masyarakat jangan arogan. Insan kesehatan ini kan sudah capek, sudah setahun lebih mengayomi masyarakat di tengah pandemi," katanya.
Masyarakat, katanya, harus lebih prihatin dengan kondisi tenaga kesehatan ini. Sebab, mereka harus berperang di garda terdepan melawan Covid-19, mengorbanan semua kepentingan pribadinya, termasuk nyawanya, demi menyelamatkan nyawa manusia.
"Apalagi sekarang nakes banyak yang kena Covid-19 juga. Sekarang banyak relawan yang hanya mendapat honor alakadarnya dari pemerintah, tetapi dia mau bekerja sampai tahunan, justru nakes ini adalah pahlawan kesehatan bagi masyarakat. Coba kalau tidak ada yang menangani ini, siapa lagi yang rela berkorban," katanya. (sidqi al ghifari/syarif abdussalam)