Breaking News:

Tentang Angkernya Jembatan dan Sungai Leuwi Panjang di Sukabumi, Begini Pengakuan Tokoh Setempat

Bantaran sungai bernama Leuwi Panjang di Sukabumi memang terkenal sangat angker bagi sebagian masyarakat. 

Penulis: Dian Herdiansyah | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Seorang warga melintas di jembatan Sungai Leuwi Panjang di Sukabumi 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Bantaran sungai bernama Leuwi Panjang, yang diapit Desa Bojongsawah, Kecamatan Kebonpedes, dan Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memang terkenal sangat angker bagi sebagian masyarakat. 

Selain sungai yang yang dianggap angker, ada jembatan gantung yang menyambungkan Kampung Bencoy, Desa Bojongsawah, dan Kampung Leuwi Panjang, Desa Buniwangi, sebagai akses utama masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Apih Ana (52), menuturkan secara singkat cerita tentang Leuwi Panjang pada zaman dulu hingga saat ini.

Baca juga: Leuwi Panjang, Tempat Memancing Terkenal di Sukabumi, Ikannya Banyak tapi Angker, Ini Cerita Warga

"Leuwi Panjang itu artinya bantaran sungai yang ukurannya lebih 300 meter. Kondisi airnya tidak deras. Namun memang tempatnya angker, tapi tak sedikit orang menjadikan lokasi mancing liar dari dulu," ucapnya.

Banyaknya cerita aneh yang dialami masyarakat sekitar tentunya menjadi hal biasa baginya dan pasti jenisnya tidak jauh dari dulu.

Antara sungai dan jembatan itu punya cerita tersendiri di masyarakat tersendiri, dibilang angker.

Apih Ana mengaku pernah menyaksikan dan mengalaminya.

"Kalau ada suara ketawa dan nangis, jembatan bergoyang, dan bersuara yang lewat kletrok... kletrok (suara pijakan), itu hal biasa terjadi. Kemudian air tiba-tiba mejadi hitam pekat, itu hal biasa dan sering terjadi dari dulu," ujarnya.

Saat disinggung hantu apa yang menempati lokasi jembatan dan Sungai Leuwi Panjang, Apih Ana menolak berspekulasi lebih jauh.

Namun ia mengatakan setiap tempat apa pun itu ada penunggunya baik yang terlihat oleh mata maupun tidak.

"Kalau bahasa orang tua dulu itu, mungkin memedi (penunggu pohon dan jembatan). Nah, sedangkan di sungai ada lulun samak atau hantu yang menampakkan diri dengan muncul tikar di atas sungai atau danau," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved