Breaking News:

Hikmah Ramadan

Hikmah Ramadan oleh Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat: Tentang Shaum Paripurna

Allah mengharapkan dari syariat shaum secara fiqhiyyah itu sebagai cara Allah untuk mendidik hamba-Nya agar memiliki karakter agung, mulia, dan utama.

Hikmah Ramadan oleh Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat: Tentang Shaum Paripurna
twitter
Jamjam Erawan, Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat

Oleh Jamjam Erawan

SECARA  fiqhiyyah, shaum dimaknai sebagai suatu perbuatan yang mengharuskan pelakunya menahan makan, minum, dan jima’ sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. 

Jika makna shaum seperti ini, anak kecil pun sudah banyak yang bisa melakukannya.

Padahal sejatinya Allah mengharapkan dari syariat shaum secara fiqhiyyah itu sebagai cara Allah untuk mendidik hamba-Nya agar memiliki karakter yang agung, mulia, dan utama.

Baca juga: Berkah Ramadan untuk Ketua MUI Tingkat Desa di Ciamis, Pemkab Serahkan 100 Motor Baru

Hal ini sebagaimana isyarat hadis Nabi saw: Barang siapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya (HR Bukhari).

Berapa banyak orang yang shaum, tapi tidak dapat apa-apa dari ibadah shaum-nya itu kecuali hanya lapar dan haus (HR Tirmidzi dishahihkan oleh Al Bani).

Shaum itu bukan hanya menahan makan dan minum, tapi harus mampu menahan dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor (HR Tirmidzi).

Imam al Baidhawi ketika memberikan syarah pada hadis di atas menandaskan bahwa maksud disyariatkannya shaum itu bukan sekadar menahan diri dari rasa lapar dan haus saja, tetapi harus diikuti oleh pengekangan syahwat dan menundukkan al nafsu al amarah bi al su, nafsu yang menyuruh kepada keburukan agar taat pada al nafsu al muthma’innah, nafsu yang baik dan tenang.

Jika ini tidak terpenuhi, maka shaum-nya tidak paripurna, tidak akan dilihat alias tidak diterima oleh Allah swt.

Ibnu Qayyim al Jauziyah telah berkata: orang yang shaum paripuna itu adalah orang yang bukan hanya menahan makan, minum, dan jima’, tapi dia mampu menahan organ-organ tubuhnya dari perbuatan dosa; lidahnya dari berbohong, ucapan keji, dan palsu; perutnya dari makan dan minum yang syubhat, apalagi haram; dan kemaluannya mampu menahan dari perbuatan yang tidak senonoh.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved