Rabu, 29 April 2026

Coffee Break

Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Menuju El Clasico ala Indonesia

El Clásico menjadi salah satu pertandingan yang selalu ditunggu dan menarik perhatian jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan

Oleh Hermawan Aksan

SECARA bahasa, el clasico berarti klasik. Namun el clasico memiliki makna yang lebih khusus, yakni istilah yang diberikan untuk pertandingan sepak bola yang mempertemukan dua klub raksasa Liga Spanyol, FC Barcelona dan Real Madrid.

Laga kedua klub ini juga kadang disebut sebagai El Derbi Espanyol.

Setiap tahun, pertemuan antara Barcelona dan Real Madrid terjadi tidak hanya di Liga Spanyol (La Liga) yang memang sudah terjadwal pasti, tapi juga berpeluang terjadi di Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, dan Piala Super Eropa.

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Aing Persib, Aing Persija

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Serigala Penyendiri Bernama Zakiah Aini

Jadi, jumlah maksimal pertemuan kedua klub bisa mencapai angka sembilan kali.

El Clásico menjadi salah satu pertandingan yang selalu ditunggu dan menarik perhatian jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia. Selalu terjadi laga dramatis di lapangan hijau dalam setiap pertemuannya.

Salah satu periode puncak yang menampilkan rangkaian drama el Clasico terjadi ketika kedua klub diperkuat masing-masing oleh megabintang yang secara individu selalu berkompetisi untuk meraih predikat pemain terbaik di dunia: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Lebih-lebih ketika Real Madrid ditangani pelatih yang paling populer di dunia karena prestasi dan mulut besarnya: Jose Mourinho.

Stadion Nou Camp dihiasi berbagai atribut Johan Cruyff di laga antara Barcelona vs Real Madrid yang berkesudahan 2-1 untuk Madrid.
Stadion Nou Camp dihiasi berbagai atribut Johan Cruyff di laga antara Barcelona vs Real Madrid yang berkesudahan 2-1 untuk Madrid. (dailymail)

Mengapa Barcelona dan Real Madrid terus bersaing selama berpuluh-puluh tahun? Persaingan itu muncul tidak lepas dari sejarah bahwa Madrid dan Barcelona adalah dua kota terbesar di Spanyol dan dua klub itu adalah klub sepak bola paling berhasil dan berpengaruh di negeri itu.

Dalam pertandingan resmi yang diakui FIFA, Barcelona telah meraih 83 trofi sedangkan Real Madrid telah meraih 84 trofi.

Di sisi lain, kedua klub kadang-kadang diidentifikasi sebagai lawan yang berseberangan secara politik, yakni Real Madrid mewakili bangsa Spanyol dan Barcelona mewakili bangsa Catalan.

Di negeri kita, belakangan ada yang menyebut pertemuan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta sebagai el Clasico-nya Indonesia.

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Lawan Terus Rasialisme

Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Benci, Benar-benar Cinta

Sebutan ini mungkin ada benarnya, tapi juga terasa berlebihan. Pada setidaknya dua dekade terakhir, rivalitas antara Persib dan Persija memang memanas. Namun, rivalitas itu terutama tidak berkaitan dengan sejarah dan persaingan kedua klub dalam memperebutkan prestasi.

Perseteruan itu lebih banyak terjadi antara kedua pendukung fanatik masing-masing, yakni Bobotoh (terutama Viking) dan The Jakmania, yang tak jelas juntrungannya.

Dikutip dari sebuah laman, sejarah justru berkata sebaliknya: kedua klub, baik Persib maupun Persija, memiliki jalinan mesra jauh sebelum masa kemerdekaan, tepatnya saat berjuang bersama mendirikan PSSI.

Saat itu Persib masih bernama Bandoengsche Indonesische Voetbalbond (BIVB) dan Persija masih dengan identitas Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ).

Big Match Persija Vs Persib.
Big Match Persija Vs Persib. (liga-indonesia.org)

Setelah negeri ini merdeka, kedua tim yang berasal dari dua kota tersohor Indonesia itu pun tetap memiliki hubungan cukup baik. Terbukti di antara keduanya acap kali bertukar pemain sejak eranya Soetjipto Soentoro.

Dan, hal itu lumrah terjadi, tak ada hal besar yang mengganjal pertukaran pemain tersebut.

Yudi Guntara, misalnya, pernah berseragam Persija sebelum bergabung dengan Persib dan membawa Maung Bandung juara Liga Indonesia 1995. Budiman pernah memperkuat Persija sebelum merapat ke Persib. Begitu pula dengan Atep.

Beberapa nama lain yang pernah berkostum Persija lalu berkostum Persib antara lain Imran Nahumarury, Antonio Claudio, Gendut Doni, Charis Yulianto, Sonny Kurniawan, Abanda Herman, dan Fabiano Beltrame.

Sebaliknya, pemain Persib pun banyak yang kemudian menyeberang ke Persija. Sebut saja Salim Alaydrus, Erik Setiawan, Harry Salisbury, Maman Abdurrahman, dan Tony Sucipto.

Boleh dikatakan bahwa dari sisi pemain, tak ada masalah untuk saling menyeberang di antara dua klub ini. Teror yang terjadi justru berasal dari pendukung masing-masing.

Piala Menpora 2021, yang sebenarnya hanya ajang pramusim dan ujian terhadap layak tidaknya Liga 1 2021 diselenggarakan, berpeluang mempertemukan Persib dan Persija di partai puncak.

Persib menang 2-1 atas PS Sleman di semifinal dan Persija bermain imbang 0-0 dengan PSM Makassar. Masih ada leg kedua dan peluang kedua tim, Persib dan Persija, masih terbuka lebar untuk bertemu di final.

Jika Persib dan Persija lolos ke final, tentu kita berharap terjadi rivalitas yang tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Pandemi sudah begitu melelahkan, jangan lagi ditambah dengan “brutalitas” tanpa juntrungan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved