Selasa, 12 Mei 2026

Gempa Bumi

Hewan Mungkin Punya "Super-sense", Perilakunya Bisa Jadi Tanda akan Terjadi Gempa Bumi

Adanya hewan yang turun gunung, cacing yang keluar dari tanah, dan hewan ternak yang gelisah sering diartikan sebagai salah satu tanda gempa bumi.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan
USGS
Lempeng tektonik yang ada di bumi berpengaruh terhadap gempa bumi di Indonesia. Adanya hewan yang turun gunung, cacing yang keluar dari tanah, dan hewan ternak yang gelisah sering diartikan sebagai salah satu tanda gempa bumi. 

TRIBUNJABAR.ID - Cerita bahwa hewan akan berubah perilakunya ketika bencana akan datang tergolong banyak kita dengar di Indonesia.

Adanya hewan yang turun gunung, cacing yang keluar dari tanah, dan hewan ternak yang gelisah sering diartikan sebagai salah satu tanda gempa bumi.

Namun, benarkah perubahan perilaku hewan-hewan ini bisa dijadikan patokan sebagai tanda akan terjadinya gempa bumi?

Baca juga: Sebelum Gempa Terjadi, Begini Perilaku yang Kerap Ditunjukkan oleh Kucing

Baca juga: Jika Terjadi Gempa Bumi, Ini Hal-hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Sebenarnya, berbagai penelitian telah mencoba menggali ke dalam statistik di balik perilaku hewan yang tak biasa sebelum terjadinya gempa.

Sebagian besar memikirkan mekanisme yang mungkin pada dua hal ini.

Sebuah penelitian terbaru mencoba menganalisis kembali data dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Para peneliti yang berasal dari GFZ German Research Centre for Geosciences itu menghubungkan pengamatan pada hewan peliharaan dan ternak dengan skala dan lokasi gempa.

"Banyak makalah kajian tentang potensi hewan sebagai prekusor (pertanda) gempa, tetapi sejauh pengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya pendekatan statistik digunakan untuk mengevaluasi data," ujar Heiko Woith, penulis utama penelitian ini dikutip dari Science Alert, Kamis (19/04/2018), seperti pernah dikutip Kompas.com.

Untuk pendekatan itu, Woith dan timnya mengumpulkan 180 penelitian yang menganalisis 729 laporan perilaku aneh hewan terkait dengan 160 gempa bumi.

Mereka menganalisis meta-data penelitian-penelitian tersebut dengan memperhatikan perincian seperti besar gempa, jarak, ativitas foreshock (gelombang sebelum gempa utama), dan kualitas penelitian tersebut.

Secara keseluruhan, para peneliti mencatat perilaku yang diamati berasal dari 130 spesies berbeda, mulai dari anjing, sapi, hingga ulat sutra.

Meski datanya terbilang melimpah, para peneliti menyimpulkan bank bukti ini mengalami keterbatasan kritis.

Pasalnya, hampir semua penelitian, kecuali 14, didasarkan pada pengamatan tunggal.

Baca juga: Menhan Prabowo Diminta Hentikan Latihan Makan Tokek Hidup, Kejam dan Rentan Tertular Penyakit

Baca juga: Wali Kota Bandung Prihatin Kapolsek Astanaanyar yang Cantik dan Ramah Itu Diduga Terlibat Narkoba

Selain itu, tak adanya jadwal membuat mereka sulit mengevaluasi secara objektif bagaimana perilaku khusus ini berbeda dengan perilaku normal.

Ini membuat para peneliti tidak bisa menyingkirkan bias konfirmasi tentang pola perilaku.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved