Mengenal Taktik ''Supit Urang'', Taktik Cerdik Jenderal Sudirman Pukul Mundur Sekutu di Ambarawa
Taktik Gelar Supit Urang atau Strategi "Supit Urang" merupakan taktik baru dalam pertempuran saat itu. Taktik ini dinilai cerdik dan efektif
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Seli Andina Miranti
TRIBUNJABAR.ID - 15 Desember memiliki sejarah perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
15 Desember sendiri diperingati sebagai Hari Juang Kartika untuk mengenang pertempuran sengit pasukan infanteri Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar rakyat melawan pasukan Sekutu yang dikenal sebagai Palagan Ambarawa.
Pertempuran tersebut merupakan peristiwa perlawanan rakyat Indonesia terhadap tentara Sekutu di Ambarawa.
Pertempuran sengit tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah militer Indonesia lantaran pasukan TKR dan laskar rakyat berhasil memukul mundur tentara Belanda dan Sekutu.
Kemenangan ini menjadi kemenangan pertama institusi militer Indonesia pasca-kemerdekaan.
Panglima Divisi Banyumas Kolonel Sudirman turun langsung dalam pertempuran setelah Komandan Divisi V Banyumas Letkol Isdiman gugur dalam pertempuran.

Pada 12 Desember 1945, setelah Kolonel Sudirman mengatakan rapat dengan Komandan TKR dan Laskar, pasukan Indonesia melancarkan serangan terhadap tentara Sekutu di Ambarawa.
Pertempuran tersebut berlangsung sengit. Untuk memukul mundur tentara Sekutu, pasukan Indonesia yang dipimpin Kolonel Sudirman menggunakan taktik supit urang.
Taktik gelar supit urang tersebut adalah pengepungan rangkap dari kedua sisi saat melawan tentara Sekutu sehingga musuh benar-benar terkurung.
Taktik Gelar Supit Urang
Taktik Gelar Supit Urang atau Strategi "Supit Urang" merupakan taktik baru dalam pertempuran saat itu.
Taktik ini dinilai sebagai taktik yang cepat dan cerdik menggunakan kekuatan serentak di segala sektor.
Dilansir Kompas.com dari situs resmi Komando Daerah militer (Kodam) XIV Hasanuddin, taktik Supit Urang merupakan taktik yang dilakukan dengan gerakan pendobbrakan oleh pasukan pemukul dari arah selatan dan Barat menuju ke arah Timur menuju Semarang.
Baca juga: HARI INI 75 Tahun Lalu, Mengenang Palagan Ambarawa, Ini Jalannya Pertempuran Sengit TKR Vs Sekutu
Gerakan tersebut diikuti dengan gerakan penjempitan dari kanan dan kiri seperti seekor udang saat menjepit mangsanya.
Selanjutnya, supit bertemu di bagian luar Ambarawa ke arah Semarang.
Untuk menjalankan taktik ini, empat kelompok yang terdiri dari beberapa pasukan berusaha membuat musuh benar-benar dalam kondisi terkurung dan komunikasi dengan pusat terputus.
Kolonel Sudirman memanfaatkan tempat-tempat di dataran tinggi seperti Bawen, Lemahabang, Bandungan, Tuntang, Ngampin, Jambu, Baran, Banyubiru, dan Kelurahan sebagai tempat untuk menggempur musuh.

Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit selama empat hari, dari tanggal 12 sampai 15 Desember 1945.
Pertempuran sengit ini pun berhasil memukul mundur sekutu dari Ambarawa.
Taktik Supit urang yang dilakukan TKR dan laskar rakyat dengan senjata dan peralatan seadanya itu pun memberikan hasil cemerlang.
Peristiwa ini menjadi salah satu pencapaian dan pembuktian cemerlang dan efektifnya taktik yang digunakan Sudirman di medan perang.
Keberhasilan ini adalah salah satu pencapaian yang menjadikan Kolonel Sudirman mendapat pangkat Jenderal dari Presiden Soekarno.
Baca juga: HARI INI 75 Tahun Lalu, Mengenang Palagan Ambarawa, Ini Jalannya Pertempuran Sengit TKR Vs Sekutu