Sabtu, 30 Mei 2026

Banyak Pengemudi Ojol Jadi Korban Unjuk Rasa, Grab Indonesia Angkat Bicara

Sejumlah pengemudi ojol menjadi korban, bahkan salah satunya meninggal dunia terlintas oleh mobil rantis Brimob, atas nama Affan Kurniawan.

Tayang:
Tribunnews/Ibriza
OJOL DILINDAS BRIMOB- Ratusan lebih pengemudi ojek online mengantarkan jasad Affan Kurniawan ke pemakaman, di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Jalan Jenderal Sudirman menghijau saat dilalui iring-iringan mobil jenazah dan para pengemudi ojol yang mengenakan jaket warna hijau. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy menyampaikan pihaknya senantiasa hadir bukan hanya sebagai perusahaan, tapi sebagai bagian dari perjuangan mitra pengemudi dalam aksi unjuk rasa yang diikuti para pengemudi ojek online dan mahasiswa.

Sejumlah pengemudi ojol menjadi korban, bahkan salah satunya meninggal dunia terlintas oleh mobil rantis Brimob, atas nama Affan Kurniawan.

"Kami berdiri bersama mereka untuk memastikan keadilan ditegakkan dan hak-hak mereka terlindungi. Karena itu, kami menyiapkan pendampingan, termasuk pendampingan hukum apabila dibutuhkan,” ujarnya, Minggu (31/8/2025).

Tirza menambahkan, tidak ada bentuk bantuan yang benar-benar bisa menutupi kehilangan atau luka akibat musibah. 

“Kami menyadari, tidak ada angka atau santunan apapun yang dapat menggantikan rasa sakit dan kehilangan. Namun, yang bisa kami lakukan adalah memastikan keluarga tidak menghadapi beban itu sendirian. Kami hadir memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pendampingan hukum,
bantuan finansial, maupun perhatian sehari-hari,” ujarnya.

Dalam peristiwa ini, dukungan Grab hadir dalam tiga lapisan, pertama, memastikan aspek medis tertangani, seperti operasi Aji dan Umar ditanggung penuh, termasuk jika muncul kebutuhan tambahan. Kedua, bantuan material dan finansial: santunan diberikan kepada keluarga Affan, perangkat kerja baru bagi Umar, hingga dukungan harian yang membuat keluarga bisa bertahan di tengah masa sulit. 

Ketiga, pendampingan hukum dan moral: mulai kunjungan rutin ke rumah sakit, menghadiri pemakaman, hingga memastikan keluarga mendapat perlindungan hukum jika diperlukan.

"Bantuan-bantuan itu mungkin tidak bisa menghapus luka atau menggantikan kehilangan, tetapi menjadi sandaran penting bagi keluarga yang terdampak. Dalam situasi penuh ketidakpastian, perhatian seperti ini membuat mereka merasa tidak sendirian."

"Peristiwa 28–29 Agustus 2025 juga membuka mata bahwa profesi pengemudi ojol sarat risiko. Setiap hari mereka berhadapan dengan lalu lintas padat, cuaca ekstrem, hingga potensi insiden sosial. Namun, mereka tetap melaju karena menjadi tulang punggung keluarga sekaligus bagian vital dari kehidupan kota," ujarnya. 

Tiga mitra Grab menjadi korban, terdiri dua luka serius dan satu meninggal dunia. Pada Jumat sore, 29 Agustus, katanya, Aji Pratama baru saja menyelesaikan pengantaran pesanan GrabFood. Dia berniat menemui rekannya yang sedang berada di sekitar lokasi demonstrasi. Namun, nasib berkata lain. Sebuah peluru karet mengenai wajahnya dan menyebabkan luka serius di bagian hidung. Dia segera dilarikan ke RSUD Tarakan untuk mendapat perawatan medis.

"Perwakilan kami datang untuk memastikan Aji mendapatkan penanganan terbaik. Operasi hidung segera dijadwalkan, seluruh biaya perawatan ditanggung, dan administrasi rumah sakit dibantu langsung agar keluarga tidak terbebani. Sejak hari pertama, tim kami rutin hadir setiap hari, mendampingi keluarga sekaligus memantau kondisi medis. Langkah itu menjadi bukti bahwa perhatian yang diberikan bukan hanya berupa santunan, tetapi juga kehadiran nyata di saat paling dibutuhkan," kata Tirza.

Sehari sebelumnya, Kamis malam, 28 Agustus, insiden lain menimpa Moh Umar Amarudin. Lanjutnya, malam itu, Umar berada di kawasan Jakarta Barat, tidak jauh dari kerumunan massa yang sedang melakukan penyampaian aspirasi. Dia awalnya sedang menunggu rekannya, namun situasi lapangan tiba-tiba menjadi ricuh. Dorongan massa membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. 

Dalam hitungan detik, tubuhnya terinjak di tengah kerumunan yang panik. Cedera di bagian rusuk membuat Umar harus segera dilarikan ke RS Pelni. Di sana, dokter menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi patah tulang di rusuknya.

"Tim kami hadir di rumah sakit, bahkan hingga dini hari, untuk memastikan kondisi Umar. Kehadiran itu tidak sekadar menanyakan kabar, tetapi langsung memberi dukungan nyata: mulai mengurus administrasi, memastikan perawatan medis berjalan lancar, hingga menyiapkan kebutuhan tambahan yang mendesak."

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved