Hasilkan Jutaan Rupiah, Saat Pandemi Warga Majalengka Ini Pilih Budidaya Ulat Jerman, Begini Caranya

Budidaya ulat Jerman jadi pilihan karena untuk membudidayakannya bisa dilakukan di sekitar rumah

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Siti Fatimah
istimewa
Warga Desa Sumber Wetan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Wastika (31) berhasil membudidaya Ulat Jerman di era pandemi Covid-19 

TRIBUNCIREBON, MAJALENGKA- Meski di era pandemi Covid-19 ini masyarakat banyak yang merasa kesulitan, khususnya mencari penghasilan sehari-hari.

Namun, hal itu tampaknya tidak berarti bagi warga Desa Sumber Wetan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Wastika (31).

Pasalnya, dirinya berhasil membudidayakan Ulat Jerman di bekas rumah yang tak lagi ditempatinya.

Baca juga: Hasil Survei, 9 Persen Warga Jabar Tidak Mau Divaksin Covid-19, Sebanyak 43,9 Persen Masih Galau

Selama dua setengah tahun, Wastika menekuni bisnis tersebut hingga akhirnya dirinya bisa mendapatkan penghasilan hingga jutaan rupiah dari setiap panen.

Wastika menceritakan, berawal dari pengalamannya bekerja di tempat budidaya Ulat Jerman milik orang lain, dirinya berhasil menyerap segala ilmu yang diajarkan oleh majikannya dulu.

Baca juga: Bejat, Seorang Wali Kelas Sebuah Madrasah di Cianjur Cabuli 9 Muridnya

Setelah berhenti bekerja di tempat milik orang lain, kemudian ia berupaya mencoba membudidayakannya sendiri di rumah.

"Alhamdulilah, setelah hampir dua tahun setengah, usaha saya sedikit demi sedikit berkembang," ujar Wastika saat ditemui di lokasi peternakannya, Senin (14/12/2020).

Bahkan, jelas dia, meski saat ini masa pandemi Covid-19, usahanya masih tetap bertahan, meski terkendala bahan baku pangan.

"Kasih makan ulatnya dengan ampas tahu dan dedak atau pakan ayam," ucapnya.

Baca juga: Viking Persib Club Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Agus Atha, Dia Dekat dengan Kami

Masih dijelaskan dia, dalam budidaya Ulat Jerman ini cukup mudah, cukup bibit Ulat Jerman yang berusia tua sekitar dua hingga tiga bulan disimpan di wadah kayu persegi panjang.

Kemudian, masuk ke dalam proses buping atau memisahkan bibit Ulat Jerman ke wadah.

Satu wadah satu ulat dan didiamkan dan tidak udah dikasih makan selama lima belas hari.

"Kemudian setelah lima belas hari Ulat Jerman itu akan berubah menjadi kumbang. Setelah menjadi kumbang didiamkan lagi di wadah selama lima belas hari hingga bertelor atau menetas ulat.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru 2021, Simpan untuk Dikirim ke Orang Terdekat via WA

Terus setelah bertelor dipisahkan antara telor dan kumbang. Setelah dipisahkan tunggu telor berubah menjadi ulat dan dikasih makan ampas tahu dan dedak," jelas dia.

Lebih jauh Wastika menyampaikan, lakukan pakan selama lima puluh hari lamanya.

Setelah itu, di panen dan dijual ke bakul atau pengepul yang mengambil Ulat Jerman tersebut setiap sepuluh hari sekali.

"Untuk budidaya Ulat Jerman sendiri dari awal pembibitan hingga bisa dipanen memakan waktu selama 50 hari. Dan setiap 10 hari bisa dipanen. Penjualannya pun hingga daerah Cirebon.

Ulat Jerman sendiri bisa dimanfaatkan untuk pakan segala macam ternak. Bisa juga buat makan reptil, ikan dan juga bisa dijadikan bahan dasar kosmetik kecantikan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved