Rabu, 22 April 2026

Ada Juga di Indonesia, Jaga Kebersihan Air Dari Amuba "Pemakan Otak",

Temuan kasus amuba "pemakan otak" di 8 kota di negara bagian Texas, Amerika Serikat, membuat otoritas setempat melarangan penggunaan air

Editor: Siti Fatimah
ISTIMEWA

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Adanya kasus anak kecil terinfeksi amuba, sejumlah kota di Amerika Serika mengeluarkan sejumlah larangan.

Temuan kasus amuba "pemakan otak" di delapan kota di negara bagian Texas, Amerika Serikat, membuat otoritas setempat mengeluarkan larangan penggunaan air sampai pengumuman lebih lanjut.

Dikutip TribunJabar.Id dari Kompas.Com, larangan tersebut dikeluarkan sebab amuba itu telah ditemukan pada sumber air yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari Dilansir dari CNN International, Minggu (27/9/2020) larangan tersebut dikeluarkan oleh Texas Commission on Environmental Quality (TCEQ) kepada penduduk yang menggunakan layanan air dari Brazosport Water Authority (BWA).

"TCEQ atas arahan Kantor Gubernur bekerja sama dengan BWA untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin," bunyi larangan itu.

Diketahui, amuba yang menjadi biang keladi keluarnya larangan itu adalah Naegleria fowleri, amuba "pemakan otak", yang ditemukan di sumber air pada Jumat (25/9/2020) malam.

Menginfeksi anak kecil

Penemuan keberadaan amuba itu berawal dari sebuah insiden pada 8 September lalu, ketika kota Lake Jackson, Texas, dikejutkan dengan kasus seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang dirawat di rumah sakit karena infeksi amuba.

Kasus yang menimpa anak itu diduga berasal dari dua sumber, yaitu air mancur di depan Lake Jackson Civic Center atau melalui air yang berasal dari saluran rumah di tempat anak itu tinggal.

Pemerintah kota mengatakan air mancur segera ditutup dan mereka menyewa laboratorium pribadi untuk menjalankan tes pada sampel air dari air mancur.

Hasil tes terbukti negatif pada 14 September, namun Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) segera dihubungi untuk melakukan pengujian lebih lanjut.

Perwakilan dari Texas Department of Health Services mengumpulkan air dan menguji sampel untuk diserahkan kepada CDC. Pada 25 September, tiga dari 11 sampel air dinyatakan positif terkontaminasi Naegleria fowleri.

Kasusnya jarang Peneliti amuba dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) Arif Nurkanto mengatakan, dari sudut pandang ilmiah Naegleria fowleri lebih tepat disebut free living organism ketimbang amuba.

Organisme tersebut memang bisa menginfeksi manusia, terutama anak-anak berusia di bawah 13 tahun. Arif menyebut, 80 persen korbannya adalah laki-laki.

"Kasusnya jarang, tapi fatal. Kebanyakan kasus ditemukan di AS. Di Asia Tenggara sendiri pernah dilaporkan di Thailand dan Vietnam," kata Arif saat dihubungi Kompas.com, Minggu (27/9/2020).

Arif menyebut, kasus infeksi Naegleria fowleri terbilang jarang. Di AS dilaporkan hanya kurang dari 160 kasus dalam 25 tahun terakhir, tapi dampaknya memang fatal.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved