Breaking News:

Jadi Peluang Emas, Cabe Jamu Kini diminati Negara-negara Di Dunia

Ekspor cabe jamu meningkat dari 7 negara tujuan menjadi 11 negara tujuan

ISTIMEWA
cabe jamu 

TRIBUNJABAR. ID, BANDUNG- Indonesia kaya akan tanaman obat salah satunya adalah cabe jamu. 

Bentuknya tidak seperti cabe umumnya, namun sekilas dengan warna yang sama, cabe jamu mirip cabe rawit. 

Khasiat dari tanaman yang memiliki banyak sebutan ini cukup banyak seperti dapat menghilangkan pegal-pegal, sakit pinggang serta membantu menjaga kebugaran. 

Banyaknya manfaat dari  cabai jamu (long paper) inilah yang juga membuat cabai jamu asal Provinsi Lampung makin meningkat di pasar dunia. 

Dikutip Tribun dari siaran pers Badan Karantina, Kementan, disebutkan Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Lampung mencatat ekspor untuk komoditas sub sector hortikultura ini pada semester 1/2020 meningkat 800% dibandingkan semester 1/2019.

Covid-19, Bisnis Topi Cigondewah Anjlok 75 %, Dulu Omzet Rp 2 Miliar Kini Rp 500 Juta Per Bulan

Banyak Perusahaan Belum Serahkan Data Karyawan ke BP Jamsostek, Tak Terima Subsidi Gaji

Berdasarkan data pada system IQFAST, sejak Januari – Juli ekspor cabe jamu telah mencapai 405,4 ton dengan nilai Rp. 19,9 milyar, sedangkan pada periode yang sama di tahun 2019 hanya 48 ton senilai Rp. 322,4 juta.

Kepala Karantina Pertanian Lampung, Muh. Jumadh mengatakan, selain mengalami peningkatan volume juga ada penambahan negara tujuan yaitu tahun 2019 hanya 7 negara tujuan sedangkan tahun 2020 menjadi 11 negara tujuan.

“Alhamdulillah cukup menggembirakan pengingkatan ekspor cabe jamu ini, dapat menembus Negara China dan benua Afrika. Sebelumnya dari Lampung belum ada ekspor ke China dan tahun ini sebanyak 153 ton dapat dikirim ke China. Untuk Afrika, Djibouti menjadi Negara pengimpor pertama dikirm sebanyak 14 ton. Ekspor ke India pun meningkat dari 27 ton menjadi 131 ton.” katanya

“Beberapa Negara yang merupakan pelanggan cabai jamu ini adalah India, Pakistan, Malaysia, Turkey, United Kingdom, Vietnam, Singapura. Tahun ini bertambah Bangladesh, United Arab Emirates, China, Djibouti, Japan, Germany dan Nepal.” katanya

Untuk persyaratan negara tujuan cabe jamu ini tidak menyebutkan bebas penyakit yang spesifik, cukup dilengkapi dengan phytosanitary certificate (PC) yang diterbitkan oleh karantina pertanian. 

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali jamil, mengatakan Indonesia memiliki banyak sumber daya alam hayati asli Indonesia yang berpotensi tinggi menjadi komoditas ekspor unggulan seperti halnya cabe jamu.

Cabe jamu merupakan tumbuhan asli Indonesia yang banyak dihasilkan di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung. Secara nasional pada tahun 2020, komoditas ini telah menyumbang devisa Negara sebesar Rp. 165,6 milyar, meningkat pesat dibandingkan tahun 2019 hanya sebesar Rp. 24,6 milyar. 

"Saat ini baru 3 wilayah yang menjadi penghasil cabe jamu, jika wilayah lain dengan habitat yang cocok ikut mengembangkan komoditas ini, tentunya dapat mendongkrak ekspor. Ini merupakan peluang emas bagi masyarakat," katanya. 

Jumadh mengatakan dalam mendukung program gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks) menteri pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, Karantina Pertanian Lampung melakukan sejumlah upaya meliputi bimbingan teknis bagi para pelaku usaha serta menyiapkan layanan cepat di Pelabuhan. 

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Siti Fatimah
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved