Breaking News:

Coffee Break

Robin Hood, Parta Kutang, dan Ajang

TENTU ada perbedaan antara maling pada umumnya, Robin Hood, Si Pitung, Parta Kutang, dan Ajang—meskipun mereka sama-sama mencuri.

Robin Hood, Parta Kutang, dan Ajang
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

TENTU ada perbedaan antara maling pada umumnya, Robin Hood, Si Pitung, Parta Kutang, dan Ajang—meskipun mereka sama-sama mencuri.

Maling pada umumnya menggasak barang orang lain sebagai "profesi": mereka melakukan kejahatan sebagai mata pencaharian. Mereka merugikan orang lain dan hanya menguntungkan diri sendiri. Mereka benar-benar kriminal.

Robin Hood, berbeda dengan maling umumnya, melakukan aksi pencurian demi menolong rakyat miskin. Padahal, aslinya ia tergolong bangsawan dan orang-orang yang menjadi sasaran pencurian adalah para pejabat yang korupsi. Ia memimpin 140 orang yang disebut "Merry Men". Meskipun hanya tokoh fiktif, kisah Robin Hood, yang muncul sebagai cerita rakyat Inggris pada abad ke-13 atau ke-14 Masehi, terus-menerus didaur ulang sepanjang zaman, antara lain melalui balada dan film-film.

Entah karena pengaruh Robin Hood atau karena kisah seperti itu bersifat universal, di Indonesia pun banyak tokoh yang dipercaya sebagai "maling budiman" atau maling wiguna atau pencuri baik hati yang membela masyarakat. Salah satunya adalah Si Pitung, yang dipercaya sebagai tokoh nyata. Jago silat dari Betawi yang amat sohor ini kemudian pernah muncul dalam beberapa produksi film di Tanah Air.

Tak hanya Si Pitung di Betawi, sejumlah daerah lain pun mempunyai legenda maling budiman. Bagus Kendo dari Bagelen, Purworejo, Maling Cluring dari Surabaya, dan Tollo di Takalar dan Jeneponto, Sulawesi Selatan, adalah beberapa di antaranya.

Di Surabaya, Maling Cluring benar-benar mirip Robin Hood, disukai oleh kaum miskin, tapi dibenci orang-orang kaya. Konon Maling Cluring sebenarnya berkali-kali tertangkap, tapi tak bisa dihabisi karena memiliki ilmu (ajian) Rawa Rontek, yang memungkinkan pemiliknya hidup kembali meski berkali-kali dibunuh, asal raganya tetap menyatu.

Di Priangan lain lagi. Meski mungkin kurang populer atau bahkan sangat jarang didengar orang, sosok seperti Robin Hood pernah hadir dalam sepenggal sejarah Bandung. Alkisah, di Cicalengka ada seorang petani yang hidupnya berkecukupan. Namun, karena mewarisi ilmu maling secara turun-temurun dari moyangnya, ia kerap menjadi maling.

"Yang namanya ilmu maling warisan leluhur, paling tidak setahun sekali menuntut dipraktekkan agar tidak hilang kesaktiannya," tulis Haryoto Kunto dalam acara "Seabad Grand Hotel Preanger: 1897-1997", seperti ditulis di sebuah laman.

Nama petani itu Parta, tapi orang-orang menjulukinya Parta Kutang karena ia selalu memakai kaus singlet saat menjalankan aksinya. Rumahnya di Cicalengka berjarak kira-kira 20 kilometer dari pusat Kota Bandung. Ia pernah beraksi di daerah Kapiten Hill atau Oranje Plein yang sepi (sekarang kawasan Jalan R.E. Martadinata). Ia membobol rumah seorang juragan perkebunan yang tengah kosong ditinggal pemiliknya bekerja. Saat pulang, si pemilik rumah kaget mendapati jendela dan pintu rumahnya terbuka, tapi tak sebuah pun barangnya yang hilang.

Seminggu kemudian ia menjebol sebuah bank. Pagi-pagi, saat tiba di tempat kerja mereka, para karyawan bank kaget karena pintu, jendela, dan brankas tempat menyimpan uang terbuka lebar. Namun, anehnya, tak sepeser pun uang di brankas itu hilang. Saat beraksi di Hotel Preanger, Parta Kutang malah sempat mencicipi minuman keras seperti sopi, brendi, dan wiski, yang ia tenggak langsung dari botolnya, dan menyempatkan diri tidur di kamar paling mahal.

Berbeda dengan Robin Hood, Si Pitung, dan Parta Kutang, Ajang hanyalah lelaki miskin yang mencuri ponsel sekali demi anaknya bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di musim pandemi. Ajang pun mengaku sangat menyesal. "Saya sadar perbuatan saya sangat salah. Cuma kemarin memang anak saya merengek minta HP. Soalnya anak saya sudah 10 hari ketinggalan pelajaran," ujar buruh tani ini di rumahnya di Desa Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, beberapa hari lalu.

Ya, itulah salah satu potret dampak pandemi. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved