Breaking News:

Coffee Break

Dinasti

Entah mengapa, setiap mendengar kata dinasti atau wangsa, yang melekat di kepala saya adalah Syailendra

Dinasti
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

DINASTI bersinonim dengan wangsa. KBBI mendefinisikan dinasti adalah "keturunan raja-raja yang memerintah, semuanya berasal dari satu keluarga", sedangkan wangsa adalah "(1) keturunan raja; keluarga raja (2) bangsa". Adapun Wikipedia mengartikan dinasti atau wangsa adalah "kelanjutan kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu garis keturunan (keluarga yang sama)."

Entah mengapa, setiap mendengar kata dinasti atau wangsa, yang melekat di kepala saya adalah Syailendra, seakan-akan wangsa adalah Syailendra dan Syailendra adalah wangsa. Apakah ini karena saya hidup di Pulau Jawa, tempat dulu pernah berdiri Kerajaan Mataram Kuno? Dan apakah Syailendra merupakan keluarga raja terbesar di Jawa?

Catatan literatur menyebutkan bahwa Wangsa Syailendra (Sailendravamsa) adalah nama wangsa raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya, Pulau Sumatra, dan di Medang (Mataram Kuno), Jawa Tengah, sejak tahun 752 Masehi. Sebagian besar rajanya adalah penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal-usul wangsa ini masih diperdebatkan. Ada yang menyebut berasal dari Jawa, Sumatra, bahkan dari India dan Kamboja.

Mungkin juga kebesaran Wangsa Syailendra tak lepas dari warisannya, Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia.

Padahal, jumlah dinasti dalam sejarah negeri ini boleh jadi sulit dihitung, sesuai dengan jumlah kerajaan yang pernah (dan masih) berdiri. Semua kerajaan niscaya diperintah secara turun- temurun—mulai Salakanagara, Tarumanagara, Kutai, Sunda, dan seterusnya. Mataram Kuno pun tidak identik dengan Wangsa Syailendra karena kerajaan ini didirikan oleh Sanjaya, yang bersama penerusnya disebut Wangsa Sanjaya. Setelah era Wangsa Syailendra berakhir, Mataram Kuno diperintah oleh Wangsa Isyana.

Tidak hanya di negeri ini, kerajaan-kerajaan mancanegara juga selalu diperintah secara turun- temurun. Apakah sistem pemerintahan yang turun-temurun ini terjadi karena saling pengaruh di antara kerajaan-kerajaan di dunia? Atau secara naluriah seorang pemimpin selalu ingin (atau dituntut) untuk menyerahkan kekuasaannya kepada keturunannya? Dalam sistem kesukuan pun estafet kepemimpinan dalam satu keluarga selalu terjadi meskipun selalu ada faktor lain: siapa yang kuat dialah yang berkuasa.

Meskipun umumnya tidak lagi berkuasa secara politis, para raja masih tetap memiliki banyak keistimewaan, baik secara kultural maupun ekonomi: Ratu Elizabeth di Inggris, Raja Willem-Alexander dari Belanda, Raja Felipe VI dari Spanyol, Kaisar Naruhito dari Jepang, dan lain-lain. Adapun Salman dari Arab Saudi adalah satu di antara sedikit raja yang juga berkuasa secara politis. Di negeri kita, Raja Yogyakarta, Sultan Hamengkubowono, secara otomatis menjadi gubernur.

Istilah dinasti juga muncul di dunia bisnis. Banyak perusahaan besar—sering juga disebut kerajaan bisnis—yang diwariskan oleh pemiliknya kepada kerabat dan anak-anaknya. Di Indonesia ada Dinasti Salim, Suryajaya, Bakrie, dan lain-lain.

Belakangan, dinasti terbangun tidak hanya di kalangan para penguasa wilayah dan bisnis. Para pejabat tertentu tidak jarang yang menyiapkan kerabat atau anak-anak mereka untuk menjadi penerus atau menjadi pejabat di daerah lain. Orang menyebutnya politik dinasti. Soekarno menurunkan anak-anak dan cucu yang berkiprah di dunia politik. Mereka sering disebut Dinasti Soekarno.

Menjelang pilkada serentak 2020, muncul para calon kepala daerah yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan pejabat yang sedang berkuasa: anak dan menantu Jokowi, keponakan Prabowo, anak Pramono Anung, dan banyak lagi.

Positif atau negatifkah politik dinasti? Waktu yang akan menjawabnya.

Tapi satu hal, ini bedanya dinasti dan wangsa: ternyata tidak ada politik wangsa. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved