Breaking News:

Coffee Break

Klepon

SEJAK kecil saya sudah akrab dengan klepon. Saya menyukainya karena rasanya memang enak. Di kampung, kami menyebutnya kelepon.

Klepon
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SEJAK kecil saya sudah akrab dengan klepon. Saya menyukainya karena rasanya memang enak. Di kampung, kami menyebutnya kelepon, sesuai dengan lidah Sunda warga desa kami, meskipun Sunda pinggiran, sama seperti kami menyebut kiripik dan kurupuk, bukan kripik dan krupuk menurut orang Jawa.

KBBI sendiri mencantumkan klepon sebagai bentuk bakunya, bukan kelepon sebagaimana bentuk baku kerupuk dan keripik. KBBI menjelaskan klepon adalah "penganan kukus yang terbuat dari tepung pulut yang dibulatkan, diisi gula merah, dan diguling-gulingkan pada kelapa parut."

Entah sejak kapan, setiap pagi di pertigaan di tengah-tengah desa kami ada semacam pasar kaget, yang biasanya berlangsung sejak selesai Subuh hingga sekitar pukul tujuh atau delapan. Di sana orang-orang berjualan aneka lauk teman sarapan pagi dan makanan-makanan kecil. Lauk-pauk itu antara lain gorengan, ikan dan ayam goreng, serta sayur dan sop iga kambing. Makanan kecilnya ketan goreng, kelepon, alu-alu, cetot, dan lain-lain.

Saya menyukai trio kelepon, alu-alu, dan cetot karena sama-sama enak dengan ciri khas masing- masing meskipun sama-sama dilumuri kelapa parut. Alu-alu terbuat dari ketan yang dibungkus daun pisang seperti lontong dan disajikan dengan parutan kelapa yang dilumurkan merata pada bagian luar dan ditambahkan sedikit garam. Adapun cetot terbuat dari bahan utama tepung kanji dan gula, yang membuat rasanya kenyal dan manis, lalu ditaburi kelapa parut juga.

Trio makanan berlumur kelapa ini pastilah memiliki penggemar tersendiri karena tetap eksis sampai kini meskipun tidak termasuk jenis yang populer. Namun, beberapa hari belakangan, berbeda dengan alu-alu dan cetot, klepon ramai menjadi bahan perbincangan. Pemicunya adalah meme iklan di media sosial yang menyebut klepon sebagai "makanan yang tidak islami".

Lepas dari siapa yang membuat iklan itu, dan apa tujuannya, masyarakat negeri ini langsung riuh- rendah membicarakan klepon. Ada yang menanggapinya secara serius, ada juga yang dengan canda. Masyarakat pun menjadi terbelah dalam pendapat, seakan-akan melanjutkan polarisasi masa pilpres, mengingatkan kita pada halal-haram Sari Roti dan air mineral Equil.

Ada analisis yang menyebut klepon sebagai wujud "gua garba" wanita. Begini Andi Setiono Mangoenprasodjo menulis di dinding FB-nya, "Menikmati klepon adalah sebuah sensasi yang absurd tapi menyenangkan. Dipandangi dulu, lalu diuntir-untir (dielus-elus), lalu saat digigit, crut, kita akan meletuskan isinya dengan sensasi manis gula merah yang meleleh di mulut...."

Saya juga terbawa arus dan membuat status di FB: "Korea baru saja meluncurkan satelit ke angkasa luar. Uni Emirat Arab menerbangkan pesawat menuju Planet Mars. Kita masih mempermasalahkan klepon."

Padahal, sepanjang sekitar dua abad, orang tidak pernah memasalahkan klepon, sebagai salah satu makanan warisan leluhur yang sudah tua jejaknya di dalam tradisi kuliner Indonesia. Menurut sejarawan makanan sekaligus dosen Departemen Sejarah Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, bukti tertulis paling tua yang memuat klepon ada pada naskah Serat Centhini milik Keraton Surakarta, yang ditulis pada awal abad ke-19. Di dalam Serat Centhini, kata Fadly, beberapa kali disebutkan kata klepon sebagai bagian dari hidangan yang dipakai untuk suguhan jamuan makan, selain digunakan pada acara ritual seperti selamatan atau pesta perayaan.

Fadly bahkan menduga klepon sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Kenapa? Karena, menurut Fadly, bahan yang digunakan, seperti tepung beras, pandan, gula aren, dan parutan kelapa, adalah bahan-bahan pangan yang tumbuh di Jawa.

Yang menarik, sekaligus menggembirakan, meme aneh tentang klepon yang tidak islami itu ternyata membuat klepon justru populer lagi dan dicari banyak orang.

Karena itu, dengan berpikir positif, kita berharap jajanan pasar lainnya terangkat lagi pamornya sehingga kembali digemari masyarakat. Amin. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved