Breaking News:

Jalur Seleksi Mandiri di Perguruan Tinggi Sebaiknya Diganti oleh Jalur Khusus untuk Warga Miskin

Jalur seleksi mandiri di perguruan tinggi sebaliknya diganti dengan jalur afirmasi atau jalur khusus untuk

Tribunajabar.id/M Syarif Abdussalam
ilustrasi ribuan mahasiswa tengah berunjuk rasa 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jalur seleksi mandiri di perguruan tinggi sebaliknya diganti dengan jalur afirmasi atau jalur khusus untuk masyarakat marjinal.

Demikian dikatakan pengamat Kebijakan Pendidikan sekaligus Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Cecep Darmawan, saat dihubungi, Minggu (19/7/2020).

"Menurut saya yang butuh jalur khusus itu bukan jalur mandiri seperti ini, tapi jalur afirmasi. Perguruan tinggi itu pro publik, membuka jalur afirmasi bagi mereka kelompok masyarakat rentan, bukan untuk menampung kelompok yang bisa bayar," ujar Cecep.

Jalur afirmasi bagi masyarakat rentan melanjutkan pendidikan itu, kata dia, tetap harus dilakukan seleksi yang ketat.

Legenda Monyet Ekor Panjang di Lembang, Diyakini Sebagai Penjaga Kawasan Berhawa Sejuk Itu

"Tapi jalur afirmasi pun kalau masih terbatas (kuotanya) bisa dipersaingkan agar lebih kompetitif," katanya.

Selama ini, kata Cecep, ada semacam diskriminasi dalam mendapat pendidikan, terutama untuk kelompok masyarakat marjinal. Hampir semua PTN menyediakan kuota 30 persen untuk jaur masuk seleksi mandiri.

Untuk dapat masuk PTN jalur seleksi mandiri itu, setidaknya calon mahasiswa harus memiliki sejumlah uang dan menyatakan kesiapan membayar biaya yang tidak sedikit.

"Ini diskriminasi dan bertentangan dengan tujuan negara, di pasal 27-28 hak asasi warga negara itu memperoleh pendidikan. Seleksi mandiri itu, katakan jalur tol bagi mereka yang mampu, walaupun memang ada seleksi, tapi hemat saya sesegera mungkin jalur itu dihilangkan, termasuk di PTS supaya pendidikan proporsional dari segi pembiayaan jangan sampai masyarakat berat," ucapnya.

Mengenal Emping Tike, Kudapan Langka Khas Indramayu, Hanya Satu Desa yang Masih Membuatnya

Solusinya, kata Cecep, selain menyediakan jalur afirmasi, Pemerintah juga harus menyediakan lebih banyak beasiswa bagi kurang mampu baik di PTN maupun di PTS.

"Sekarang memang sudah ada, tapi akan lebih masif kuotanya diperbanyak, karena pendidikan tinggi itu kewenangan pusat, jadi harus ke pemerintah pusat," katanya.

Penulis: Nazmi Abdurrahman
Editor: Ichsan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved