Breaking News:

Coffee Break

Hiperbola Korona

Kini, beberapa bulan setelah "tuduhan" bahwa media membesar-besarkan korona, kita tahu bahwa wabah ini, alih-alih mereda, malah makin membesar.

Hiperbola Korona
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

INI status seseorang di media sosial beberapa hari lalu, sebagai reaksi atas berita di sebuah harian yang menyebutkan bahwa 281 orang di Secapa, Bandung, sembuh: "Kalau dari 1.307 dari mereka yang ikut Secapa ada yang meninggal dalam jangka waktu 14 hari, maka Covid-19 itu memang mengerikan. Jika tidak ada yang meninggal, maka pernyataan dari salah seorang dokter di Bandung, (bahwa) wabah Covid-19 terlalu dibesar-besarkan oleh media, adalah benar."

Secara logika, pernyataan seperti itu bisa diperdebatkan. Dan ini salah satu komentar yang menurut saya sangat logis: "Pertama-tama yang harus dimengerti adalah virus Covid-19 itu tidak membunuh. Mereka yang positif Covid dan kemudian meninggal adalah mereka yang daya tahan tubuhnya rendah, berusia lanjut, dan punya penyakit bawaan. Sekarang, siapa siswa Secapa? Muda, daya tahan tubuh kuat, fisiknya prima sebagaimana biasanya militer yang selalu tiada hari tanpa berlatih fisik, dan sangat sangat jarang yang punya penyakit bawaan. Minimal jantung mereka kuat, paru-paru kuat, ginjal kuat, dan tidak kencing manis. Lha, apa yang salah kalau mereka sembuh?"

Sayangnya, saya belum menemukan pernyataan "seorang dokter di Bandung" itu. Karena itu, saya hanya ingin sedikit mempertanyakan peran media dalam pernyataan itu, yang saya pahami sebagai media massa. Benarkah media massa terlalu membesar-besarkan wabah Covid-19? Media massa yang mana: cetak, elektronik, internet, atau semuanya? Media internasional atau nasional? Media tertentu atau semua media? Bagaimana dan dengan cara apa media tersebut membesar-besarkan wabah Covid-19?

Ketika saya coba mencari berita di media dengan mengetikkan kata kunci "media membesar- besarkan korona/corona", saya tidak menemukan berita yang aktual, setidaknya berita bulan Juli. Yang saya dapati adalah berita-berita dan tulisan beberapa bulan lalu, yang lebih berupa "tuduhan" dan, dilihat dari linimasa korona, sudah terasa sangat basi.

Berikut ini beberapa di antaranya.

"Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei menuduh "musuh-musuh" Iran membesar-besarkan ancaman virus corona. Seminggu kemudian Presiden Hassan Rouhani mengulang pesan sang Ayatullah di tengah jumlah kasus dan kematian yang meningkat. Katanya ini merupakan persekongkolan musuh Iran, dan ia menyarankan warga meneruskan hidup sehari-hari." (bbc.com, 20 Maret 2020)

"... (pemerintah) menuding media membesar-besarkan isu penyebaran wabah virus ini. Pemerintah melalui beberapa pejabatnya mengatakan virus korona tidak terlalu berbahaya. Dalam hal penyebab kematian penyakit jantung koroner, TBC, penyakit paru kronis, diabetes militus, dan sebagainya masih lebih berbahaya dibanding virus korona. Ditambahkan lagi bahwa virus korona bisa sembuh dengan sendirinya karena di tubuh kita punya zat antibodi." (Kompasiana, 2 April 2020)

"Tagar #FilmYourHospital baru-baru ini menjadi trending topic di Twitter, menargetkan rumah sakit dan tenaga medis. Tujuan dari tagar adalah untuk menunjukkan bahwa rumah sakit sebenarnya kosong dan keparahan pandemi telah dibesar-besarkan oleh media." (Intisari-Online.com, 6 Mei 2020)

Kini, beberapa bulan setelah "tuduhan" bahwa media membesar-besarkan korona, kita tahu bahwa wabah ini, alih-alih mereda, malah makin membesar di sejumlah negara, termasuk di negara kita. Saat angka yang positif korona masih di bawah 10 ribu, pemerintah pernah memprediksi jumlahnya akan mencapai puncak di angka 40 ribu. Namun, kemarin, angkanya sudah lebih dari dua kali lipat. Jusuf Kalla pun meramalkan, pada 17 Agustus mendatang jumlahnya 120 ribu.

Data itulah yang menunjukkan besarnya wabah, bukan karena media membesar-besarkan.

Sayangnya, banyak orang yang masih menganggap demikian, lalu bersikap abai terhadap protokol kesehatan. Malah, masih ada saja yang menganggap korona itu hoaks. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved