Breaking News:

Coffee Break

Arista

Kisah Aristawidya Maheswari yang gagal masuk SMA negeri di Jakarta spontan saja membawa pikiran saya ke nama-nama macam Thomas Alva Edison.

Arista
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

TENTU saja terlalu jauh membandingkan Aristawidya Maheswari dengan nama-nama besar dunia. Namun, kisah Arista yang gagal masuk SMA negeri di Jakarta spontan saja membawa pikiran saya ke nama-nama macam Thomas Alva Edison.

Pada masa kecilnya di Amerika Serikat, Edison selalu mendapat nilai buruk di sekolahnya. Karena itu, ibunya memberhentikannya dari sekolah dan mengajar sendiri di rumah. Di rumah, dengan leluasa Edison kecil dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Di kemudian hari, Edison terkenal dengan berbagai penemuan yang menyebar ke seluruh dunia.

Winston Churchill konon tampak bodoh waktu masih kecil. Ia mendapat nilai buruk di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara sampai-sampai ayahnya berpikir, kalau dewasa nanti, ia tidak bisa hidup di Inggris. Namun berkat kesukaannya membaca biografi tokoh terkenal, ia dapat mengubah pendapat orang tentang dirinya. Ia pun menjadi Perdana Menteri Inggris di era Perang Dunia II.

Hans Christian Andresen juga termasuk murid tertinggal ketika masih sekolah, padahal usianya lebih tua dibanding anak-anak sekelasnya. Selain itu, waktu kecil ia hidup di lingkungan yang miskin. Namun, sejak kecil ia sudah mengenal berbagai cerita dongeng dan akrab dengan pertunjukan sandiwara. Ibunya suka menuturkan cerita-cerita rakyat dan ayahnya suka membuatkannya gambar-gambar dan membacakan dongeng. Dengan begitu, otak kanannya menjadi sangat berkembang sejak kecil. Di kemudian hari ia terkenal sebagai pencipta dongeng- dongeng terkenal.

Affandi, yang dikenal sebagai pelukis yang sangat berbakat, justru mengaku tidak suka membaca, apalagi belajar teori-teori lukis yang rumit, bahkan sering menyebut dirinya sebagai pelukis kerbau. Ia kerap merasa bahwa ia adalah pelukis yang bodoh sehingga julukan kerbau itu dirasa pas untuk menggambarkan kepribadiannya.

Arista, yang tinggal di sebuah rumah susun di Jakarta Timur bersama neneknya karena orang tuanya sudah tiada, sudah mencoba mendaftar ke berbagai SMAN melalui beberapa jalur PPDB, mulai jalur prestasi nonakademik, afirmasi untuk pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), zonasi, hingga prestasi akademik. Di jalur prestasi nonakademik, Arista gagal karena prestasi tingkat nasionalnya diraih saat ia duduk di bangku SD, sedangkan sewaktu SMP ia hanya juara tingkat kota, padahal ia peraih sekitar 700 penghargaan dari berbagai lomba lukis. Di jalur afirmasi, Arista tak lolos lantaran faktor usia. Ia baru berusia 15 tahun dan banyak calon lain yang berusia lebih tua. Di jalur zonasi pun ia gagal karena faktor usia. Di jalur prestasi akademik ia gagal karena nilainya kalah bersaing dengan calon lain.

Setelah terpental di berbagai SMA yang dia incar, Arista memutuskan untuk putus sekolah pada tahun ini. Ia pun berencana memanfaatkan kondisi itu untuk fokus mengajar lukis di sejumlah ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) di Jakarta Timur. "Rasanya sedih juga. Tapi senangnya, aku bisa meluangkan waktu untuk melukis, mengajar, dan lebih banyak waktu berbagi di RPTRA," katanya.

Arista memiliki aktivitas rutin mengajar lukis di RPTRA Cibesut, Jaka Berseri, Jaka Teratai, dan Yayasan Rumah Kita. Selain berbagi ilmu melukis kepada anak jalanan, gadis yang mengidolakan pelukis Basuki Abdullah itu juga memiliki murid dari kalangan anak-anak perumahan di sekitar RPTRA. "Di RPTRA itu sifatnya sosial, tidak ada biaya, kecuali yang privat panggilan ke rumah di dekat RPTRA, ada untuk uang jajan saya," ucapnya.

Banyak jalan untuk meraih cita-cita. Saya membayangkan, selain semua kegiatan itu, Arista bisa menimba ilmu melukisnya ke para pelukis besar. Ia juga kelak bisa menuntut ilmu di perguruan seni.

Jalan mana pun yang dia tempuh, saya berdoa semoga dia kelak menjadi pelukis besar. Amin. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved