Breaking News:

Coffee Break

Karéta Mesin

ANAK muda Sunda zaman now mungkin akan bingung kalau ditanya apa itu karéta mesin. Bisa saja mereka pikir itu kereta api yang melaju pakai mesin.

Karéta Mesin
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

ANAK muda Sunda zaman now mungkin akan bingung kalau ditanya apa itu karéta mesin. Bisa saja mereka pikir itu kereta api yang melaju pakai mesin (lho, bukankah kereta api pasti ada mesinnya?), semacam kereta kuda yang pakai mesin (memangnya ada?), sepeda motor, atau mobil.

Bukan tidak mungkin ada yang bengong jika diberi tahu bahwa karéta mesin itu istilah sepeda dalam bahasa Sunda. Bukankah sepeda tidak punya mesin? Bagaimana bisa disebut karéta mesin?

Saya juga baru tahu karéta mesin itu sepeda dari buku pelajaran Bahasa Sunda ketika sekolah dasar. Meskipun penduduk desa kami berbahasa Sunda, karena berbatasan dengan daerah Jawa, banyak sekali kata bahasa Jawa yang kami pakai sehari-hari. Salah satunya pit, kata bahasa Jawa untuk sepeda. Kami lebih mengenal pit daripada sepeda, apalagi karéta mesin.

Di Tatar Sunda pun, istilah karéta mesin boleh jadi sudah jarang dipakai, terutama di kalangan muda. Hanya orang-orang tua yang masih memelihara istilah ini, itu pun di desa-desa. Sekarang orang Sunda lebih banyak memakai kata sapéda, yang kadang diucapkan sapédah.

Nah, tentang mengapa dulu orang Sunda menyebutnya karéta mesin, boleh jadi karena pemahaman tentang mesin orang zaman dulu berbeda dengan pemahaman orang zaman sekarang. Mungkin saja orang-orang dulu menganggap pedal, gigi, dan rantai sepeda adalah mesin.

Dalam bahasa Indonesia pun ada istilah selain sepeda, yaitu kereta angin, yang juga mungkin aneh. Bukankah sepeda melaju karena genjotan kaki kita, bukan karena dorongan angin? Tapi kereta angin masih bisa dipahami. Ada lagi istilah lain yang mungkin asing, tapi tercatat di KBBI, yaitu kereta lereng. Bagaimana sepeda disebut kereta lereng, sayangnya, saya belum menemukan penjelasannya.

Oh, ya, di Tesaurus Bahasa Indonesia ada juga istilah basikal sebagai padanan kata sepeda. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris bicycle dan dipakai secara umum di Malaysia.

Kata sepeda sendiri berasal dari kata bahasa Prancis velocipede. Menurut Ensiklopedia Columbia, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Prancis. Negeri itu konon sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.

Seorang warga Jerman, Baron Karls von Sauerbronn, kemudian mencoba menyempurnakan velocipede pada tahun 1818. Kendaraan ini pun terus disempurnakannya oleh orang-orang setelah Von Sauerbronn hingga bentuknya hampir sama dengan sepeda seperti yang kita kenal saat ini.

Dulu, Kota Yogyakarta mendapat julukan Kota Sepeda karena para pelajar dan mahasiswa umumnya naik sepeda pulang-pergi sekolah atau kuliah. Masyarakat juga banyak yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi untuk beraktivitas.

Di Bandung, meskipun tidak pernah dijuluki kota sepeda seperti Yogya, konon sepeda sudah umum dipakai sejak paruh pertama abad ke-20. Beberapa foto Bandung tempo dulu memperlihatkan penduduk yang memakai sepeda, baik ke tempat kerja maupun ke sekolah. Beberapa di antaranya berlatar tahun 1920-an.

Seiring dengan perkembangan zaman, sepeda makin tersingkir dari Yogya, Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya, digantikan mobil dan sepeda motor.

Dan kini, di tengah pandemi korona, tiba-tiba sepeda kembali menjamur di kota ini—dan berbagai kota lain di negeri ini. Harga sepeda pun melejit. Lalu, muncul kabar tentang akan adanya pajak sepeda, yang kemudian dibantah pemerintah.

Apakah demam sepeda ini akan berlangsung lama atau sekadar hangat-hangat tahi ayam? Kita tinggu saja. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved