Breaking News:

Coffee Break

Ibarat Kuda Lepas

Meski masih ragu-ragu, saya akhirnya menerima juluran tangan itu sambil terus mengingatkan diri sendiri supaya setelah itu tidak menggosok mata

Ibarat Kuda Lepas
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

BEBERAPA hari setelah Lebaran, saya kedatangan tamu, seorang teman akrab di masa kecil dan teman satu tim sepak bola desa kami. Kami lama tidak bertemu karena ia bekerja di Jakarta sejak bujangan. Begitu dipersilakan masuk, ia menjulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. Saya ragu-ragu, tidak menyambut juluran tangannya dan bilang bahwa kami harus menjaga jarak.

"Alaaah, kita mah, kan, sesama teman," katanya, tertawa, seraya tetap menjulurkan tangannya.

Meski masih ragu-ragu, saya akhirnya menerima juluran tangan itu sambil terus mengingatkan diri sendiri supaya setelah itu tidak menggosok mata, menyentuh hidung, atau mengusap mulut. Setelah mengobrol barang beberapa menit, saya minta izin. "Kebelet pipis dulu," kata saya. Di kamar mandi, saya mencuci tangan dengan sabun.

Boleh jadi banyak orang yang merasa aneh jika antarsaudara dan antarteman akrab tidak bersalaman dan saling peluk ketika berjumpa. Tidak sekali-dua kali saya menyaksikan pemandangan seperti itu: di depan rumah, di jalan, di pasar. Mereka mungkin merasa sehat-sehat saja, menganggap masing-masing tidak sedang diserang virus korona, apalagi menderita Covid- 19.

Padahal, jika kita menjaga jarak dan menolak bersalaman, bukanlah semata-mata karena takut tertular, melainkan juga takut menularkan, selain bahwa jaga jarak adalah salah satu protokol kesehatan di era pandemi korona. Tidak ada yang tahu siapa yang membawa virus, bukan? Konon, orang yang tanpa gejala Covid berjumlah banyak. Namanya tanpa gejala, mereka tampak sehat-sehat saja. Orang yang sakit bisa kelihatan, tapi orang yang tampak sehat-sehat saja tampak sama saja dengan orang yang sehat.

Seperti terhadap siluman yang tidak kasat mata, begitulah mungkin ketakutan sebagian orang terhadap orang tanpa gejala. Saya sebut sebagian karena sebagian lain tampaknya sama sekali tidak takut terhadap apa pun, bahkan terhadap orang yang sudah jelas-jelas terpapar Covid-19. Di sejumlah daerah sekelompok orang nekat membawa saudara atau kerabat mereka yang sedang dirawat di rumah sakit karena (diduga) terpapar Covid-19.

Ketika pemerintah membuat kebijakan tentang pelonggaran pembatasan menuju situasi normal baru, entah mengapa saya mengibaratkan banyak orang yang kawas kuda leupas tina gedogan (seperti kuda yang lepas dari kandang), merasa bebas pergi ke mana pun, merasa situasi sudah kembali normal: berduyun-duyun mendatangi tempat wisata, pusat belanja, dan kafe, serta bepergian jarak jauh menggunakan kereta api dan pesawat terbang.

Saya, entah mengapa pula, merasa ngeri melihat fenomena itu, lebih-lebih jika orang-orang seakan tidak peduli dengan protokol kesehatan: salah satu yang kelihatan adalah tidak memakai masker.

Kengerian macam itu pula yang saya rasakan ketika saya membaca kabar bahwa pemerintah Kabupaten Garut sudah membolehkan kembali diadakannya resepsi pernikahan. Secara resmi Kabupaten Garut tergolong zona kuning, yakni wilayah dengan risiko penularan rendah.

Dan memang benar akan ada penerapan protokol kesehatan: penyediaan tempat cuci tangan, hand sanitizer, keharusan pakai masker, dan jaga kesehatan.

Namun siapa bisa menjamin kerumunan yang terdiri atas kerabat dan teman akrab itu tidak bersalaman, berpelukan, dan mengobrol saling berdekatan dalam sebuah resepsi, apalagi jika bertempat di sebuah gedung yang kapasitasnya terbatas?

Rasa ngeri saya itu muncul karena disiplin masyarakat kita yang, yaaa, memang masih perlu ditingkatkan. Ketidakdisiplinan itulah yang, antara lain, membuat Jawa Barat memperpanjang masa PSBB: ada sejumlah kluster baru penyebaran korona, antara lain pasar-pasar tradisional dan puskesmas. Di Bekasi malah terjadi penularan dari rumah ke rumah.

Dan, melalui juru bicara baru yang cantik, dr. Reisa Broto Asmoro, dikabarkan bahwa jumlah orang yang terpapar Covid-19 tiap hari terus bertambah. Setelah hampir tiga bulan, grafiknya terus meningkat.... (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved