Breaking News:

Coffee Break

Pengakuan Dosa

Ketika memutuskan pulang ke Bumiayu, kota kecil kami di Jawa Tengah, beberapa hari sebelum Lebaran, saya memang merasa berdosa

Pengakuan Dosa
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

STATUS beberapa teman di media sosial berisi kata-kata seperti ini: "Sekarang saya paham beda pulang kampung dan mudik. Yang pulang kampung sedang bahagia berkumpul sanak-saudara, yang mudik sedang bingung tidak bisa masuk kota."

Kata-kata seperti ini ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya. Setidaknya, tidak sepenuhnya benar bagi orang macam saya, yang, seperti saya katakan dalam tulisan saya beberapa waktu lalu, sulit dimasukkan baik ke kelompok "mudik" maupun "pulang kampung" sebagaimana pembedaan yang dikatakan Jokowi.

Anggaplah tulisan ini semacam "pengakuan dosa". Ketika memutuskan pulang ke Bumiayu, kota kecil kami di Jawa Tengah, beberapa hari sebelum Lebaran, saya memang merasa berdosa, bahkan sempat muncul perasaan bahwa saya sedang melakukan perbuatan jahat. Pemerintah jelas-jelas melarang siapa pun untuk mudik dan saya memahami alasannya: siapa tahu para pemudik itu bisa menularkan virus korona kepada orang-orang yang mereka sayangi.

Pada saat yang sama, banyak teman saya yang mengunggah aktivitas mereka di kota dengan segala kerinduannya untuk bertemu dengan keluarganya tapi tetap memutuskan untuk tidak mudik. Saya menghargai dan mengagumi ketetapan hati mereka dan mungkin banyak orang yang menganggap mereka sebagai pahlawan—orang yang mendapatpahala.

Saya memutuskan pulang kampung—atau mudik—karena saya sudah melakukannya secara rutin, rata-rata dua minggu sekali, dan sepanjang puluhan tahun saya selalu berlebaran di kampung. Jadi, akan terasa aneh kalau saya tidak pulang: sendirian di kontrakan di Bandung di hari-hari libur Lebaran, dengan warung-warung makan yang mungkin tutup, tidak bisa pergi ke mana-mana, dan tidak bertemu dengan siapa pun. Saya juga berketetapan hati untuk pulang karena selama di Bandung saya sudah menjalankan segala protokol kesehatan di masa Covid-19: mencuci tangan pakai sabun di air yang mengalir, memakai masker jika di luar rumah, dan menjaga jarak dengan orang lain.

Meskipun demikian, saya siap menghadapi risikonya: kalau petugas mengharuskan saya kembali ke Bandung, saya akan kembali. Hari itu, menurut berita yang beredar di media hari sebelumnya, pemantauan oleh petugas akan berlangsung 24 jam tiap hari.

Saya memutuskan pulang kampung naik sepeda motor berdua dengan keponakan saya. Kami berangkat pukul lima pagi dan mengambil jalur selatan, padahal seorang teman mengingatkan bahwa pemerintah dan para petugas akan mewaspadai para pemudik yang bertujuan Garut dan sekitarnya.

Sampai Cileunyi tak kelihatan petugas di mana pun. Titik pantau (check point) masih sepi. Begitu juga sepanjang perjalanan hingga Banjar. Barulah, menjelang perbatasan dengan Jawa Tengah, sejumlah petugas di titik pantau sedang duduk-duduk dan mengobrol, mungkin baru hendak memulai tugas mereka, tapi tak ada satu pun yang mencegat pengendara. Memasuki Jateng, ada lagi titik pantau dan lebih banyak petugas di sana, tapi juga tetap membiarkan kami melaju.

Singkat cerita, kami sampai di Bumiayu sekitar pukul 11. Perjalanan lancar karena lalu lintas relatif lengang, tak ada bus antarkota dan antrean pemudik seperti tahun-tahun sebelumnya.

Selama di Bumiayu, saya hampir tidak ke mana-mana. Kami melaksanakan salat, termasuk salat Id, di rumah—untuk kali pertama dalam hidup saya, saya menjadi imam salat Id. Di hari Lebaran pun kami di rumah saja, tidak berkunjung ke rumah tetangga dan bersilaturahmi dengan orang tua hanya melalui video WA, padahal jarak Bumiayu ke rumah orang tua saya (desa kelahiran saya) hanya 16 km.

Berbeda dengan para pemudik menurut status di medsos, saya tidak bingung karena tidak bisa masuk kota. Dengan kesiapan menghadapi risiko yang sama—kalau petugas mengharuskan kami kembali ke Bumiayu, saya akan kembali—saya dan keponakan saya menuju Bandung juga naik sepeda motor.

Berangkat pukul tujuh pagi, alhamdulillah tiba di tujuan pukul 13.00. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved