Coffee Break

Menunggu Pandemi Usai

KAPAN pandemi korona ini berakhir? Ini pasti pertanyaan hampir semua orang, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Menunggu Pandemi Usai
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

KAPAN pandemi korona ini berakhir? Ini pasti pertanyaan hampir semua orang, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Berbulan-bulan sudah kita dicekam virus maut tak kasat mata ini, yang sudah memorakporandakan berbagai aspek kehidupan kita.

Namun, sebagaimana kedatangannya yang tidak diduga, kepergiannya pun sulit diprediksi. Kira- kira dua bulan lalu seorang ahli virus, drh Indro Cahyono, yakin bahwa pandemi ini akan segera berakhir meski tidak menyebutkan kapan kira-kira waktunya. Menurut Indro, penyakit Covid-19 sebetulnya biasa-biasa saja, tapi dibikin menjadi menyeramkan. "Kita terlalu gampang menerima berita yang tidak benar, terus dimasukkan ke otak kita terus-menerus: korona, mati, korona, mati, padahal faktanya tidak begitu.... Kita harus meyakinkan orang bahwa virus korona ini tidak ada hubungannya sama kematian. Belum tentu orang yang kena korona pasti mati, karena kenyataannya yang mati dalam skala dunia lebih sedikit, itu pun juga ada yang dikategorikan sebagai high risk group," katanya, dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews.

Konon, Indro sempat menjadi sasaran buli banyak orang karena dinilai menganggap remeh wabah korona.

Para ahli statistik, berdasarkan angka-angka, pernah membuat prediksi bahwa pandemi ini tidak akan berlangsung lama. Paling lama, kata mereka, akhir tahun 2020 kita sudah bebas dari pandemi.

Di pihak lain, banyak ahli yang berpendapat sebaliknya. Ahli epidemiologi dari Unpad, Pandji Fortuna Hadisoemarto, misalnya, mengatakan, berdasarkan perhitungan penyebaran kasus dan penanganannya, pandemi Covid-19 diperkirakan baru akan berakhir pada pertengahan atau akhir 2024. Menurut Pandji, hal itu bisa terjadi jika pemerintah dan masyarakat tidak memperketat kembali pembatasan sosial dan malah ada pelonggaran PSBB.

Keputusan pemerintah memang terkesan berubah-ubah dengan cepat. Pada awalnya, terjadi tarik- menarik antara mereka yang ingin lockdown dan yang sebaliknya. Pemerintah pun memutuskan penerapan PSBB, dengan sekian aturannya. Pemerintah sempat melarang mudik, tapi membolehkan pulang kampung. Namun, makin dekat Lebaran, muncul keputusan pelonggaran, yang antara lain memicu terjadinya kerumunan di bandara.

Masyarakat juga terkesan abai terhadap peraturan dan anjuran pemerintah. Pasar-pasar dan pusat belanja selalu dipadati orang-orang, yang sebagian tidak mengenakan masker. Lalu lintas kembali padat. Sejumlah masjid masih melaksanakan salat Jumat dan Tarawih berjemaah. Bahkan orang berkerumun sekadar untuk menyaksikan tutupnya sebuah gerai makanan di Sarinah, Jakarta.

Di satu sisi, pandemi korona melahirkan banyak ahli secara mendadak. Para ahli virus sudah pasti, mereka berseliweran di media sosial dengan berbagai pendapat yang kadang terkesan berbenturan. Setelah Presiden menyebut perbedaan antara mudik dan pulang kampung, sekonyong-konyong pula bermunculan para ahli bahasa, dengan opini yang juga tak jarang bertolak belakang.

Di sisi lain, dahsyatnya pagebluk ini tidak meredam riuh rendah postingan dan komentar di media sosial. Mereka tetap bertengkar dalam hampir segala hal. Adat kakurung ku iga, kata orang.

Ahda Imran, seorang teman yang juga sastrawan, menulis status di FB-nya: Situasi kita di masa pandemi ini persis permainan Timnas: pola permainan tidak jelas, kerja sama tim amburadul, penguasaan bola lemah, zona marking longgar, lapangan tengah mudah kehilangan bola, lini pertahanan mudah ditembus, striker sering offside, instruksi pelatih membingungkan, penonton brutal, komentator ribut dan heboh, belum lagi pengurus berkomplot dengan mafia pengaturan skor. Dan kita masih saja yakin bisa mengalahkan Tim Covid-19...."

Satu lagi: wasit entah di mana. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved