Cerita Pendek
Wabah
Nama lengkap yang tertera pada kartun tanda penduduknya: Siti Karantina Wuhanah.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
SETELAH yakin suaminya, Koko Korona, positif terjangkit virus dan harus diisolasi di sebuah rumah sakit, istrinya Karantina dan satu anak laki-laki dewasa berusia 19 tahun, Copid, harus tinggal di rumah tanpa jelas apa yang mesti dikerjakan kecuali sekadar menunggu panggilan RT tentang kabar bantuan dari pemerintah yang sampai hari ketujuh puluh lima belum juga datang. Persediaan beras dan makanan sudah nyaris habis. Jangan mimpi menunggu sampai menghabiskan tabungan dan deposito. Toh, apa yang ditabungkan dan apalagi didepositokan dari seorang kepala keluarga yang kerjanya serabutan menjadi kuli angkut di sebuah pasar tradisional yang telah dua kali mengalami kebakaran namun tak pernah dibangun karena penolakan heroik dari para pedagang lama.
"Mak, kabar dari kawan Bapak yang sama-sama positif, ternyata diisolasi di rumah sakit lebih nyaman ketimbang di luaran sini. Daripada tinggal terus di rumah tidak jelas seperti ini."
"Kata kawan Bapak yang mana, Pid? Kamu jangan asal ngomong, jangan ngarang. Bapak kamu itu orang yang tak pernah punya kawan dan tak pernah memanfaatkan perkawanan sehingga hidupnya...." Karantina tak kuat melanjutkan bicaranya
"Melarat, Mak, yah," potong anaknya
"Pintar kamu, Pid, padahal rapor kamu jelek dan makan kamu tidak pernah bergizi."
"Ya, Mak, bukan kawan sebenarnya, tapi orang baru yang dikenalnya di rumah sakit. Kebetulan satu ruangan. Kawannya itu kelihatan sangat pintar, dulunya seorang pemimpin koran di Bandung yang sekarang dipindahkan menjadi wartawan di Jakarta dan kebetulan juga sama positif kena."
"Pid, kamu jangan suka ngarang. Jangan menyebar finah. Pimpinan koran itu kan hebat, sehat, dan kaya-raya, tidak mungkin terjangkit apa namanya ko...."
"Namanya sama dengan suami Emak, Mak, Ko...rona... Koko Korona," Copid melanjutkan.
Tawanya sedikit tertahan, apalagi ketika membayangkan bahwa nama ibu kandungnya sendiri yang ada di hadapannya sama persis dengan istilah dari sebuah upaya pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus: Karantina. Nama lengkap yang tertera pada kartun tanda penduduknya: Siti Karantina Wuhanah. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi mengapa nama dirinya sendiri terambil dari spesies virus walaupun dia sering berpikir bahwa maksud orang tuanya mungkin Hafid. Bukan Covid atau Copid dalam pelafalannya sebagai singkatan dari Coronovirus disease. Hafid sebagai sebuah nama bagus dengan harapan anaknya kelak menjadi penghafal Al-Qur'an. Sayang sekali di rapor tertulis Copid. Mungkin itu juga yang menjadi alasan sampai hari ini tidak ada satu surat pun yang hafal di luar kepalanya kecuali surat Qulhu dan Falak Bin-nas yang menjadi bacaan rutin dalam sembahyang melengkapi al-Fatihah.
"Lha, Mak, virus ini mah ganas. Tidak mengenal melarat atau kaya. Tua-muda, laki-perempuan. Semua bisa kena, Mak."
"Terus apa kata si Wartawan itu, Pid?" tanya emaknya, penasaran.
"Gini, Mak. Katanya di rumah sakit itu enak, Mak. Makanan melimpah. Tidak kurang. Minuman mulai dari teh sampai jahe tersedia. Tempat olahraga dan berjemurnya juga luas. Buka puasa dengan yang enak-enak, Mak, enggak kaya di sini, tempe dan kerecek kangkung," kata Copid capetang, seolah dia sendiri yang langsung bercakap-cakap dengan si Wartawan padahal dia hanya sekadar membaca sekilas dari dinding Facebook-nya.
"Terus, ngomongnya apa lagi, Pid?"
"Katanya lagi, tapi jangan bilang-bilang sama yang lain, ya, Mak, di rumah sakit juga banyak yang gak puasa."
"Gak aneh. Gak apa-apa, Pid. Kata Ajengan Durahman, perempuan yang sedang hed gak usah puasa."
"Bukan perempuan, Mak, tapi laki laki dewasa dan jagjag. Pake sorban. Gamisan lagi...."
"Pid, hati-hati Pid kalau ngomong. Jangan suka menyebar fitnah. Jangan nyieun pucuk ti girang. Kata Ajengan...."
"Iya. Kata Ajengan Durahman, Mak, yah...," kata Copid sambil membayangkan wajah teduh ajengan yang menjadi idola emaknya itu. Seorang ajengan nyentrik dengan rambut gondrong sebahu, tak pernah berserban, bahkan lebih sering mengenakan kaus dan jin ketimbang sarung dan baju koko. Di samping menjadi ajengan dan ketua DKM, profesi sehari-harinya sebenarnya mengelola kios servis dan reparasi arloji walaupun Copid sendiri tak pernah sekali pun melihat ada arloji melingkar di pergelangan tangannya, termasuk di pergelangan tangan istri yang dicintainya, Ummi Halimah, yang menjadi ketua pengajian ibu-ibu, termasuk di antara jamaahnya ibunya sendiri, Siti Karantina Wuhanah, yang sebenarnya jarang hadir ke pengajian kecuali kalau sudah diketahui bahwa penceramahnya suami Ummi Halimah, Ajengan Durahman, ajengan kesukaannya.
Ajengan yang bagi Copid sendiri sering menampilkan perilaku aneh. Tak pernah mengenal waktu dalam banyak hal. Ketika mengimami salat kadang sangat sebentar dan terkadang begitu berlama-lama. Begitu juga dalam bersedekah. Bro-broan tanpa perhitungan. Ketika ditanya, dengan ringan Sang Ajengan yang tak jelas asal-usul kampung halaman kelahirannya itu menjawab sambil tersenyum.
"Karena saya tak pernah punya arloji, Pid."
"Apa hubungannya dengan arloji, Ajengan?" tanya Copid
"Begini, Pid, asal kamu tahu saja, arlojilah yang seringkali menjajah kita. Mendefiniskan konsep diri kita secara kaku. Kita dipaksa lanjut atau berhenti oleh jam. Arloji telah merusak jati diri kita. Arloji telah memberikan kemungkinan hidup semakin mudah dan teratur tapi sekaligus bikin kita tak ubahnya mesin. Mekanistik. Kehilangan spontanitas dan kemurnian. Juga arloji semakin merasa sok penting karena ditempatkan di pergelangan tangan tempat nadi berdetak dan nyawa seseorang terdeteksi."
Mendengar jawaban deras seperti itu Copid mengernyitkan dahi sambil garuk-garuk kepala. Mungkin paham maksudnya walaupun hanya remang-remang. Bukan hanya Copid tapi juga Ajengan Durahman sendiri seperti tidak mengerti penuh ihwal kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya.
Dahulu, sebelum kedatangan wabah pandemik, yang dianggap hiburan satu-satunya itu adalah mendengarkan ceramah Ajengan Durahman. Semenjak diberlakukan pembatasan sosial berskala besar, pengajian ibu-ibu di masjid pun lenyap, hiburan itu pun sirna. Penjelasan keagamaan yang ringan, santai, meneduhkan, tidak menggurui, apalagi menebar caci maki dan menghibur tapi tidak norak tak lagi terdengar. Tinggal di rumah bukan hanya semakin menjemukan tapi kian menjadi sebuah siksaan.
Pada pagi kisaran pukul 07.15 WIB, daerah itu dikejutkan sirene yang memancarkan berfrekwensi 1.600 Hz dari sebuah ambulans yang lewat. Jelas hendak menuju sebuah pekuburan warga di ujung kampung. Segenap penduduk tak ada yang mendekat, hanya mengintip dari kaca jendela. Tapi ada sekelompok pemuda dan orang tua yang tergesa-gesa ke luar rumah siaga menghadang ambulans menolak kehadiran jenazah karena kekhawatiran menyebarkan virus.
Siti Karantina Wuhanah dan anaknya Copid semakin cemas. Firasat buruk menghantui pikirannya. Jangan-jangan ajal bapaknya, Koko Korona, telah tiba. Lebih sedih lagi kalau firasat itu benar, tak ada pihak keluarga yang berani mengantarnya ke kuburan, apalagi membuka kain kafan penutup wajah jenazah sekadar melihat terakhir kali.
Para pemuda dan beberapa orang tua tak berhasil menghadang para petugas dari rumah sakit, apalagi di sekitar peti jenazah polisi dan tentara dengan senjata yang terkokang mengelilinginya. Sampai selesai penguburan tepat pukul 08.30, segenap warga tak ada yang tahu jenazah siapa yang dimakamkan itu. Serba-aneh dan rahasia. Senyap. Hening. Mulut-mulut tertutup. Mata menatap hampa dan para petugas berseragam putih hazmat suit mirip astronot itu bergegas masuk ambulans setelah semuanya dianggap selesai.
Semua warga menerka-nerka. Namun tentu tak ada yang mau mengambil risiko menggalinya lagi untuk memastikan siapa yang terbujur di kubur itu. Nyaris kebanyakan warga menduga itu tak lain Bapak Koko Korona, suami Siti Karantina Wuhanah, bapak Jang Copid.
Namun ketika si Wartawan bikin status lengkap dengan fotonya tengah bersila yang mengabarkan perkawanannya makin lekat dengan Bapak Koko Korona, semua merasa lega. Apalagi Copid dan Siti Karantina sangat riang walaupun bantuan pemerintah lewat RT tak kunjung datang kecuali sekadar janji yang diumumkan berulang-ulang dari pengeras suara masjid yang kosong.
Justru yang bersedih adalah Ummi Halimah yang dalam dua minggu terakhir kehilangan suaminya. Ajengan Durahman seperti ditelan bumi. Menghilang. Tanpa jejak dan kabar. Seperti arloji yang menumpuk di kios servisnya. Detaknya terhenti. Jarumnya tak lagi berfungsi. Jangan-jangan Ajengan Durahman telah mulih ka jati. Dari asal kampung yang tak jelas menuju asal yang pasti. Entahlah.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/asep-salahudin.jpg)