Virus Corona di Jabar
Warga di 5 Kecamatan di Garut Tak Boleh Keluar Rumah, Pasar Wanaraja Ditutup
Pihaknya juga sudah melakukan rapid test kepada 28 orang yang sudah pernah kontak dengan KC-1.
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ravianto
"Apalagi malam hari saya minta tiap RW ada ronda. RW lakukan langkah prefentif. Biaya gotong royong untuk fisik sudah digeser. Bisa digunakan untuk pencegahan dan penanggulangan Covid-19 sebesar Rp 10 juta per RW," ucapnya.
Pihaknya juga akan membubarkan warga yang masih berkerumun. Warga tak boleh mengadakan acara yang melibatkan banyak massa.
"Kami juga akan koordinasi agar perkantoran di sekitar lokasi positif untuk tutup. Bukan hanya pasar yang akan disemprot," katanya.
Helmi menambahkan, bagi penarik delman juga diminta tak beroperasi.
Pemkab telah menyiapkan kompensasi selama tak beroperasional.
"Termasuk angkot akan dibatasi. Upaya ini agar penyebarannya tidak meluas," ucapnya.
Mudik dari Jakarta Kondisi Sakit, Naik Bus
Satu pasien positif Covid-19 di Garut sempat datang ke dua fasilitas kesehatan (Faskes) sebelum menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) di RSUD dr Slamet Garut.
Paramedis di Faskes itu tak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien tersebut.
Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, menyebut pasien itu pertama kali berobat ke Faskes pada tanggal 21 Maret 2020.
Lalu keesokan harinya, ia kembali berobat ke Faskes lain.
"Dia terjangkit di Jakarta. Dalam keadaan sakit pulang ke Garut tanggal 20 (Maret). Memang kita belum lakukan penjagaan di Kadungora pada tanggal itu," kata Helmi di Command Center Garut, Selasa (31/3/2020).
"Lalu tanggal 21 berobat di Faskes, tanggal 22 berobat lagi di Faskes berbeda di kecamatan itu."
Setelah mengalami gejala demam, pasien tersebut baru dirujuk ke RSUD dr Slamet Garut pada 23 Maret.
Ia langsung menjadi PDP karena mengalami beberapa gejala seperti demam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kondisi-lalu-lintas-di-depan-pasar-wanaraja-garut_20150813_181005.jpg)